Kata-Kata SMS

SMS Kata Cinta - Kata Gombal - Pantun Cinta - kata kata mutiara - SMS Ulang tahun, Malam, Pagi, Ucapan Pantun sms, Kata kata lucu


Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Kumpulan Cerpen Tetang Ibu; Kasih Sayang dan Kelembutan Ibu

Kumpulan cerpen tentang Ibu ini admin persembahkan untuk sobat semua. Rasanya begitu haru ketika kita membaca kisah kisah tentang Ibu. Ya, siapa yang tidak punya Ibu, semua punya karena kita pasti dilahirkan dari rahim seorang wanita yang bernama Ibu. Selama sembilan bulan kita dikandungnya, dibawa kemanapun pergi, dijaganya dengan sangat baik dan kemudian dilahirkandengan taruhan nyawa. Setelah lahir kitapun dirawat dengan penuh kasih sayang, maka tepatlah jika ada pepatah yang menyebutkan kasih Ibu bagaikan mentari yang menyinari dunia ini yang tidak akan padam sedikitpun.
cerpen tentang ibu

Kisah kisah tentang Ibu pasti akan ada sepanjang zaman ini masih ada. Akan tetapi tak semuanya kisah itu manis, ada juga kisah kisah yang memilukan. Misalnya saja kisah Malin Kundang anak yang durhaka, bagaimanamungkin seorang anak bisa mencampakan seorang Ibu, maka sudah tepat bila akhirnya si Malin Kundang dikutuk jadi batu, akan tetapi memang hati Ibu akan selalu penuh kasih sayang pada anaknya, sang Ibu pun menyesali kutukannya yang diucapkan kala emosi itu. Ibu Malin Kundangpun menyesali kutukannya tersebut, ini bukti bahwa sejahat apapun seorang anak, kasih sayang seorang Ibu tidak akan pernah padam. Dan berikut adalah beberapa kisah kumpulan cerita tentang Ibu.

Ibu Maafkan Aku

Aku adalah mahasiswa baru yang baru setahun masuk dan sekarang lagi ada Ujian Semester. Aku yang selalu hidup bersantai santai dan mulai jarang pulang ke rumah bermain dengan teman sampai tak kenal waktu sehingga membuat ibu selalu cemas dan khawatir. Hidupku saat ini sungguh seperti anak muda jaman sekarang banget. Ibu hanya dianggap sepele seperti pembantu saja. Berangkat kuliah pulang malam, hari libur tidak ada di rumah kelayapan kesana kemari tanpa tujuan yang jelas. Yah begitulah…

Kemuadian, di siang yang cerah saat di ruang kampus aku duduk termenung sendiri menunggu mata kuliah berikutnya. Tiba-tiba datang seseorang mengagetkan aku dengan membawa kabar duka, yaitu Dewi teman sekelasku sekaligus tetangga ku juga. “Rama.. Rama.. Ibumu.. Ibumu..” Berbicara dengan nafas yang tersenggal-senggal karena habis berlarian menghapiriku. “Iya.. iya.. ada apa dengan ibu ku?” Tanyaku bingung dan khawatir. “Itu.. Ibumu kecelakaan..” “Apa…? yang benar kamu Wi?” Tanyaku terkejut. “Iya beneran, Barusan aku ditelpon Ibuku di rumah suruh ngasih kabar ke kamu!” “Apa..” Mataku terbelalak mendengar itu.

Bagai petir yang menyambar pohon yang rapuh, dah pohon itu pun tumbang. Seperti itulah perasaananku saat itu, tak karuan bingung harus melakukan apa dan tanpa pikir panjang lagi ku dengan secepat kilat pulang menuju rumah tak peduli walau itu masih ada jam kuliah yang harus aku ikuti karena adanya Ujian Semester.

Setelah ku berlari dari kampus yang tak jauh dari rumah dan akhirnya sampai, dan di rumah kulihat banyak orang berkumpul di rumah ku, sehingga membuat ku khawatir dan tak tenang. Ku berhenti sejenak dan mulai berpikir negatif akan apa yang terjadi pada ibu ku, seakan ku kehilangan sesuatu yang berharga di dunia ini, dan mulai ku melangkah perlahan lahaan untuk memastikan bahwa itu tidak benar, tapi sebelum sampai masuk rumah dan mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, tubuh ini serasa ringan tapi begitu berat untuk ku terus melangkah, dan mendengar suara samar samar orang yang lagi berbicara tapi setelah itu sudah tak terdengar lagi seakan ku mulai terputus dengan dunia ini.

Setelah beberapa menit aku pingsan tepat di depan rumah dan dibawa masuk oleh warga, ku mulai sadarkan diri lagi dan melihat Dewi di samping ku menemaniku dari tadi. “Aku dimana ini?” Tanya ku pada Dewi. “Di rumah mu Rama, di kamarmu ini..” jawab Dewi lirih. “Oh iya, dimana ibuku? Gimana kadaan Ibuku? Aku harus menemuinya!” sambil berdiri dan menuju pintu, tapi secepat aku berdiri secepat pula Dewi meraih tangan ku dan menarikku untuk duduk dan menenangkan diri dulu, tapi karena aku sudah sangat khawatir akan keadaan Ibu aku tetap memaksa untuk keluar kamar dan menemuinya, dan saat ku membuka pintu kulihat sesosok tubuh yang di balut oleh kafan putih dan tertutupi oleh selendang batik, sontak aku langsung membuka penutup itu dan… Aku pun tak sadarkan diri lagi setelah melihat wajah Ibunya yang sudah tak bernyawa lagi. Di waktu yang sama Ayah ku juga baru sampai rumah yang juga tergesa-gesa pulang mendengar kabar duka tersebut, karena tempat kerja Ayah ku jauh jadi agak lama untuk menuju ke rumah, sedangkan aku di bawa masuk lagi ke kamar karena belum sadarkan diri juga.

Di saat aku pingsan pemakamanpun mulai dilanjutkan lagi, karena Ayah sudah datang beserta sanak keluarga yang sudah menunggu dari tadi, dan karena sudah dimandikan sebelumnya jadi tinggal untuk di sholatkan dan segera untuk dimakamkan.

Kali ini pingsan ku lebih lama dibandingkan yang pertama tadi, ku baru sadar kembali setelah beberapa jam setelah kejadian itu. Saat itu pemakaman sudah kelar semua dan warga sekitar beserta saudara sedang mengadakan tahlilan untuk Ibuku, karena sudah tradisi di desa ini, apabila ada orang yang meninggal akan ada tahlilan atau selamatan bagi si almarhun.

Setelah ku tersadar, ku coba untuk duduk dan merenungkan apa yang sudah menimpa ku hari ini, ku benar benar kehilangan seseorang yang paling berharga di dunia ini, seseorang yang selalu ada di setiap jalan hidup ku sampai saat ini, yang selalu sabar dengan semua tingkah lakuku yang sering menyusahkannya dan sekarang sudah tiada.
Ku sedih dan meneteskan air mata yang sebelumnya tak pernah ku lakukan karena ada masalah, tapi ini benar-benar meremukkan hati dan jiwa raga ini. Tiba-tiba ku mendengar suara lirih untuk menguatkan aku. “Rama.. kamu yang sabar yah, semua ini pasti ada hikmahnya.. jadi janganlah kamu menyesali semua ini, semua yang hidup pasti akan mati dan kembali ke Rabbnya..” bujuk Dewi agar ku sedikit tenang, tapi ku masih termenug dan terdiam menyesali semua ini. “Dewi apakah ini hukuman bagiku karena telah menyusahkan dan mengecewakan Ibuku?” Tanya ku sambil menahan air mata yang tak kunjung berhenti ini. “Hm.. Jangan berpikiran beitu Rama, mungkin ini sedah takdir Ibumu dan cobaan bagimu Rama.. jadi tetep bersabarlah..”. “Tapi mengapa harus Ibuku..?” Dengan ekspresi tidak terima dengan semua ini. “Tenaglah Rama.. Sabar..” Dewi mencoba menenankan ku. “Sabar bagaimana.. Melihat Ibuku yang tidak salah apa-apa harus mengalami kejadiaan ini.. Mengapa Dew.. Mengapa? Tolong Dew, Citakan pada ku kejadiannya, ku ingin tahu..” pintaku ke Dewi untuk mengetahui kenapa sampai ini terjadi.

Dan akhirnya Dewi pun menceritakannya, “Begini Rama.. kau tahu hari ini hari apa?.. ini adalah hari ulang tahunmu kan.. Mungkin tidak begitu banyak orang yang mengetahuinya, tapi Ibumu selalu mengingatnya Rama..”. “Trus apa hubungannya dengan kejadian ini?” tanyaku penasaran. “Tadi ku sempat dengar cerita dari ibuku.. Ibumu tadi pagi begitu semangat untuk merayakan Ultahmu, Ibumu ke luar rumah untuk ke pasar membeli bahan-bahan buat nasi kuning kesukaanmu, pas di jalan ibuku bertemu dengan Ibumu dan meyapanya tapi saking senang dan semangtnya sampai sampai tak mendengar sapaan ibuku pagi tadi, padahal biasanya Ibumu selalu menyahutnya apabila ada yang menyapanya tapi kali ini memang sungguh aneh.. tapi pada akhirnya Ibumu dan Ibuku jalan bersama untuk ke pasar dan mengobrol. Dan Ibuku sempat bertanya pada Ibumu “Bu.. tumben nih hari beda dari biasanya.. lebih bagaimana gitu?” Tanya Ibu Dewi. “Beda gimana Ibu? Biasa saja ini.. Cuman saya lagi senang saja karena ini hari Ultah anakku, tadi pagi sebelum berangkat kuliah dia ingin minta di bikinin Nasi Kuning kesukaanya Bu..” jawab Ibuku. “Oh begitu ya Bu.. Ada-ada saja Rama itu.. (Sambil tersenyum) .. Ada yang bisa saya bantu Bu?” “Oh trima kasih Bu… tapi saya bisa tangani sendiri kok Bu..”. “Oh begitu ya Bu..”. Kemudian mereka pun pulang bersama karena bahan yang di beli serasa sudah cukup.”

Sesampainya dirumah Ibumu langsung masuk rumah dan mulai memasak, tapi tak tahu kenapa Ibumu keluar lagi dengan tergesa-gesa. “Lho Bu mau kemana lagi..?” Tanya Ibu Dewi yaag baru mau masuk rumah. “Itu ada yang kurang Bu, ini mau balik lagi ke pasar beli bahan yang kurang itu..” jawab Ibuku sambil tersenyum. Dan tiba-tiba terjadilah tragedi itu. “CIIITTT… BRUUAAKKK…” Suara mobil yang oleng, dan pada saat itu Ibu mu yang baru saja keluar rumah lalu mulai berjalan di tabrak oleh mobil yang oleng tadi, penyebabnya karena mobil itu bannya pecah.. kejadiaanya sangat cepat jadi Ibuku tak sempat memperhatikan itu.. dan yang sangat disesalkan Ibuku saat itu adalah Ibumu tak sempat di selamatkan karena pendarahan yang cukup parah di kepala sehingga meniggal di tempat..”.

Setelah mendengar kejadian itu ku mulai menangis lagi dan lebih parah sebelumnya, tangisan ini lebih berat dan menyakitkan hati sampai air mata ini tak dapat lagi di keluarkan. Dan saat itu pulalah ku berdoa dan meminta serta berjanji pada Allah dalam hati.. “Ya Allah.. maafkan lah hambamu ini, ampunilah dosa hambamu ini yang selalu mengecawakan dan menyusahkan Ibu hambamu ini.. Aku berjanji akan menjadi anak yang lebih baik lagi, lebih berbakti lagi kepada Ibu Ya Allah, Hambamu mohon janganlah Engkau ambil Ibu, kembalikan Ibu Ya Allah..”
Tiba-tiba ku mendengar suara yang cukup keras tepat di telingaku, sehingga membuatku terkejut kaget mendengarnya. Dan akhirnya aku terbangun dan tersadar bahwa aku sedang dibangunkan oleh Dosen yang galak, karena aku tertidur dan tak bangun di atas bangku. Sontak ku bangun dan terdiam karena di omeli Dosen tersebut, dan setelah itu Ujian Semester di lanjutkan lagi. Tapi ada perasaanku yang masih mengganjal di pikiranku, tapi masih begitu samar-samar karena masih kaget karena suara Dosen tadi yang cetar membahana itu.

Dan akhirnya Ujian selesai dan ku ketemu dewi saat keluar kelas, saat itulah tiba-tiba saja air mata ku menetes entah kenapa dan mulai mengingat mimpi yang seperti kenyataan itu tadi. Dan akupun segera pulang untuk memastikan mimpi itu benar atau salah. Dan sesampainya di rumah aku benar-benar bersyukur melihat ibuku masih sehat-sehat saja sedang memasak di dapur, kemudian ku peluk Ibu dan meminta maaf padanya karena kelakuanku akhir-akhir ini.

Mimpi itu benar-benar jadi pelajaran buat ku bahwa Ibu adalah seseorang yang sangat berharga dan tak tergantikan oleh apapun. Mulai saat itu aku merubah gaya hidupku yang berantakan dan terkesan ugal-ugalan menjadi lebih baik.

Maafkan Aku Bunda


Aku berada di sebuah taman hijau yang indah dipenuhi dengan bunga-bunga merah yang bermekaran, di tengahnya ada kolam air bundar yang penuh dengan susu coklat yang sangat menggiurkan, di samping kolam itu ku temukan pantai dengan air yang biru, aku berlari menuju pantai dan masuk ke dalam airnya, “begitu sejuknya air ini” ucapku. Tapi aku berenang terlalu jauh dan aku mulai lelah, tiba-tiba tanganku tak lagi bisa ku gerakkan begitu juga dengan kakiku. Aku kehilangan kemampuanku untuk berenang. Perlahan tubuhku masuk ke dalam air yang begitu dalam aku berusaha minta tolong tapi tak seorangpun yang ada di sekitarku. Aku bingung, aku melonjak-lonjakan kakiku berusaha berenang tapi aku tak bisa. Aku mulai kehabisan napas, mulut dan hidungku penuh dengan air. “Tuhan bantu aku” aku berdoa dalam hati.
Tiba-tiba…
Byuuurrr. Seember air menyiram mukaku…
“Liat jam tuh, mau libur kamu sekolahnya hari ini, kalau masalah bangunin kamu kalau gak kayak gini gak akan berguna” ucap Bundaku marah.
“Iya bun, bentar lagii!” jawabku.

“Liat jam tuh, mau dihukum sama Pak Joe lagi”
Dengan mata yang masih ngantuk aku menatap jam di dinding kamarku.
“HAH, udah jam delapan?”
Aku bergegas menuju kamar mandi. Dengan sabarnya Bundaku menyiapkan buku dan seragam sekolahku.
Selesai mandi aku segera bersiap, tanpa mencium tangan bundaku aku berangkat menuju sekolah.
“Jangan lupa makan Naa, uang jajan kamu udah bunda tambah buat kamu makan di sekolah!” ucap Bundaku dari jauh.
“Iyaa bun” Jawabku.

Sesampainya di sekolah, guru ekonomi yang paling tidak pengertian menurutku sudah berada di dalam ruangan. Dengan sedikit omelan aku diperbolehkan untuk mengikuti pelajaranku hari ini.
“Anak-anak sekarang kumpulkan buku kalian” ucapnya.

Aku membuka tas ranselku dan mencari buku Pr Ekonomi ku, tak ku temukan buku itu dimanapun. “Pasti bunda lupa sama buku Pr-ku, ini nih susahnya punya Bunda gak sekolah” gumamku marah. Aku kesal karena Bundaku lupa dengan Pr yang sudah susah-susah aku kerjakan. Aku minta izin keluar dan segera menelpon bundaku.
“Iyaa Naa, ada apa?” Jawab Bundaku di ujung telpon.
“Bunda lupa sama Pr Naa yaa, bunda gak tahu sih tadi malam Naa begadang buat ngerjain Pr itu, kalau sekarang gak dikasihin sama Bu Guru, Naa gak dapat nilai trus gak naik kelas kalau sampai Naa gak naik kelas itu gara-gara Bunda ya, kalau tau bakalan kayak gini mending Naa gak masuk aja dari tadi, atau sekalian Pr-nya gak Naa kerjaiin, Bunda sengaja ya mau bikin Naa gak naik kelas biar kita sama, Naa gak mau sama kaya Bunda. Naa mau pintar gak mau bodoh kayak Bunda, aku gak mau punya anak tanpa ayah sama kayak bunda”
“Naa, bunda minta maa…”

Tuuuttt… tuuuttt… Aku menutup telponnya setelah puas melimpahkan kekesalanku dengan Bundaku. Aku tak peduli bagaimana dengan keadaan bundaku di rumah.
Hari itu aku tidak masuk kelas lagi, aku bolos dengan beberapa temanku. Kami pergi ke pantai dekat dengan sekolahku. Kami di pantai sampai sore, malam ini aku juga tidak pulang ke rumah aku menginap di rumah temanku. HPku ku matikan agar tak ada gangguan dari siapapun.
Esoknya aku pulang ke rumahku dengan perasaan puas karena telah melampiaskan kekesalanku kepada bundaku. Sesampainya aku di rumah aku berharap bundaku akan meminta maaf kepadaku.
Namun apa yang aku dapatkan sangat berbeda sekali dengan apa yang aku harapkan. Entah mengapa banyak orang yang berada di rumahku. Aku bingung namun aku tetap masuk ke rumahku. Pandangan semua orang menuju kepadaku, ada apa gerangan pikirku.
“dari mana saja kamu!” Tanya pamanku padaku.

“Suka-suka aku dong, kaki aku ini, ngapain kalian di rumahku, pulang sana!” jawabku marah.
“KAMUUU!” jawab pamanku lagi sambil mengepalkan tangaannya.
“Yandi, sudah! dia masih anak-anak” sebuah suara lirih menyehut dari dalam kamar Bundaku. Aku menjulurkan lidahku memperolok pamanku.
Aku masuk ke kamar bundaku, aku berharap bundaku akan meminta maaf karena telah membuatku ketinggalan Pr-ku. Namun tak ku temui bundaku di kamar itu yang ada hanya Nenek-ku dan beliau menyerahkan sebuah surat padaku.
“Ibumu pergi Naa, sebaiknya kamu baca surat darinya” ucap nenekku sambil membelai lembut rambutku.
Dear anakku yang ku sayangi..

Maaf Naa, bunda gak bisa jadi bunda yang baik buat kamu. bunda juga minta maaf gara-gara bunda Pr Naa telat dikumpulnya.. bunda sudah antar Pr Naa ke sekolah, bunda juga sudah ngomong sama Guru Ekonomi Naa, dan dia mau nerima Pr Naa. Bunda nyesaalll banget Naa, gara-gara bunda juga Naa jadi dimarahin sama bu Guru coba Bunda bangunin Naa lebih pagi..? masalah Naa gak punya ayah itu gak bener Naa, ini Bunda pergi ke Semarang buat jemput ayah Naa. Nanti bunda kenalin sama ayah kalau Naa sudah gede. Mungkin Naa bisa mengerti kenapa bunda gak pernah ngasih tau Naa tentang ayah Naa. Bunda sudah nitipin Naa sama nenek, makanan buat seminggu ke depan juga sudah bunda siapin. Baik-baik sama nenek yaa Naa! Bunda sayaaanggg Naa..
Ciuman sayang dari bundamu ..:*
“Emang ayah Naa kenapa nek koq bunda gak pernah ngasih tau Naa” tanyaku perlahan pada nenekku.
“Ayah Naa sakit makanya dirawat di rumah sakit” jawab nenekku.
“Trus kok di rumah rame nek, mau nyambut kepulangan ayah yaa..”
“Nanti Naa juga tau” jawab nenekku singkat.

Malam ini aku tak bisa tidur nyenyak aku mengingat bundaku. Aku tidur ditemani nenekku.
“Naa, Naa sayang gak sama bundanya?” Tanya nenekku.
“Gak nek soalnya bunda gak pernah ngasih tau Naa siapa ayah Naa, Naa kan malu diejek sama teman-teman” jawabku.
“Naa mau nenek ceritain gak tentang ayah Naa?”
“Mau nek..” jawabku mantaapp.

“Ayah Naa itu seorang pelaut makanya ayah Naa jarang pulang, ayah Naa mengemudikan sebuah kapal besar. Ayah Naa sering keluar negeri”
“Artinya ayah pernah ke Eropa dong Nek” sahutku dengan penuh kekaguman.
“Iya Naa, ayah Naa juga sudah keliling Dunia, ayah Naa lelaki yang sangat hebat”
“Trus kenapa ayah gak pernah nengok Naa nek”
“Mungkin Naa udah lupa ayah Naa sering gendong Naa waktu Naa kecil”
“Trus kenapa ayah sekarang gak pernah nemuin Naa lagi nek?”
“Naa, semua hal gak selalu berjalan baik, suatu hari kapal ayah Naa dihantam badai besar dan ayah Naa menghilang ditelan lautan, sampai kemarin ada yang nelpon Bunda Naa katanya ayah Naa ditemukan di daerah Semarang, ayah Naa hilang ingatan sehingga harus dijemput, Bunda Naa langsung pergi jemput ayah Naa kesana,”
“trus kenapa di rumah ada tahlilan nek?”
“Untuk itu Naa harus sabaaarr ya sayang”

Aku berlari menuju nisan Bundaku. Aku menangis sejadi-jadinya di depan nisan itu berkali-kali ku ciumi benda putih itu tanpa bisa berkata apa-apa. Kata-kata nenekku malam masih membekas di hatiku. Nenekku juga menitipkan sebuah buku harian Bundaku kepadaku. “Bundamu kecelakaan sepulangnya dari mengantarkan Pr mu ke sekolah Naa, karena bundamu harus lekas ke bandara untuk pergi menyempatkan pesawat yang dipesannya, karena tergesa-gesa mobil bundamu menabrak tiang listrik, sehingga menyebabkan pendarahan yang sangat hebat di kepalanya”
“kenapa gak nunggu Naa nek?” jawabku terisak.
“Naa ditunggu beberapa jam gak datang, dihubungin gak aktif, trus ke sekolah gak masuk sedangkan darah yang mengalir di kepala bundamu gak berhenti makanya kami dari pihak keluarga memutuskan untuk memakamkannya segera, maafkan nenek Naa”
Cerita itu masih membekas di kepalaku. Aku bingung apa yang harus aku lakukan malam itu.
“Ini Naa nenek menemukan diary ini di lemari bundamu”

Aku buka lembar diary itu satu persatu dan aku menemukan jawaban semua pertanyaanku.
Aku kecewa kenapa anakku sendiri harus begitu marahnya padaku. Aku gak memberitahu siapa ayahnya karena aku takut dia malu karena ayahnya seorang yang terkena gangguan jiwa. Aku takut dia malu, biarlah aku yang menanguung sakit hati ini asalkan dia bisa tersenyum sepanjang hari, itu sudah cukup mengobati sakit hatiku…
Hari ini aku bersikap tegas terhadap Naa, bukan karena aku tak sayang padanya tapi aku ingin dia lebih dewasa dalam menjalani hidupnyya, aku ingin dia lebih teratur lagi…

Cukuplah aku yang kecewa karena tak mendapatkan apa yang aku inginkan asalkan Naa mendapatkan semuanya.
Ku peluk buku kecil itu namun itu tak bisa menggantikan Bundaku yang teramat hebat. 17 tahun aku membenci Bundaku, namun seumur hidupku harus ku relakan untuk menyesali kebencianku kepadanya. Yaa, aku sangat menyesali apa yang telah aku lakukan dulu sampai saat ini dan itu karena aku kehilangannya.

Sajadah Buat Emak


Endraaa, mandi!” Emak memanggilku. Kutinggalkan lapangan. Itulah tempat bermainku dan kawan-kawan. Tidak luas sih, tapi cukuplah bagi kami bermain kejar-kejaran sampai badan dan baju basah kena keringat.
Tak ingin Emak memanggilku untuk kedua kalinya, aku berlari menuju halaman belakang rumah. Tidak langsung pergi mandi sih, badanku masih basah dengan keringat. Nih, malah ada keringat menetes dari sela-sela rambutku, mengalir turun sampai leherku. Lagi pula kata Emak kalau badan masih berkeringat sebaiknya tidak buru-buru mandi. “Nanti malah sakit. Tunggulah sebentar sampai suhu badanmu normal. Tidak kaget jadinya waktu kena air,” begitulah nasihat Emak.

Wah, seru sekali permainan kami hari ini. Begitu serunya hingga waktunya shalat Maghrib tiba masih saja aku ingat betapa hebat cara kami saling menjatuhkan menara. Bukan menara betulan lho, melainkan pecahan-pecahan genting tanah liat yang kami tumpuk hingga setinggi lutut anak kecil. Kami bermain dalam dua kelompok berlawanan. Masing-masing kelompok punya satu menara yang harus di jaga dari kelompok lain. Jika menara berhasil dijatuhkan hingga tak ada lagi sisa pecahan genting yang bertumpuk, maka kelompok yang menjatuhkan menara tersebut memenangkan permainan. Coba kalau tadi Emak tidak memanggilku, pasti kami masih asyik bermain.
Saat hendak mengambil air untuk wudhu, ku lihat wajah Emak yang letih. Mungkin cucian baju Emak sangat banyak hari ini. Kalau saja aku dapat membantunya. Sayang, tempat Emak bekerja jauh sekali dari sini. Emak juga melarangku ke sana.

“Emak malah khawatir kalau Endra nyusul Emak ke sana. Endra kan masih kecil. Sudahlah, yang penting Endra belajar yang rajin, shalat yang rajin, ngaji juga yang rajin, ya! Pokoknya Endra harus jadi anak pintar, tawakal, dan berbakti kepada negara. Janji sama Emak, ya.” Yah, kalau Emak sudah bilang begitu, aku hanya bisa mengangguk. Tapi dalam hati aku berjanji, pada Emak juga diriku sendiri, pasti aku akan rajin melakukan semuanya itu. Aku ingin Emak bangga dan bahagia melihat usahanya memasukkanku ke sekolah luar biasa tidak sia-sia. Walaupun aku tidak bisa bicara dengan mulutku, aku akan bicara dengan karya dan kerjaku.
“Endra, ayo shalat dulu. Kok bengong?” tegur Emak lembut sambil tersenyum. Kubalas senyum Emak. Tak lama kemudian, aku dan Emak shalat Maghrib di mushala yang letaknya agak jauh dari rumah.

Dalam shalatku, muncul keinginan melihat Emak shalat di rumah beralaskan sebuah sajadah yang indah. Lho, kok? Ah, sudah-sudah, shalat yang benar. Pikiranku kok ke mana-mana sih? Selesai shalat, terlintas lagi keinginan itu. Iya, ya, Emak kan sekarang tidak punya sajadah, pikirku ketika itu. Memang, kalau hujan deras dan kami tidak bisa shalat di mushala ini, Emak dan aku terpaksa menggunakan selembar kain putih kecil yang lebih tepat di sebut sebagai sapu tangan sebagai ganti sajadah.

Emak pernah punya sajadah. Tapi untuk keperluan sekolahku, Emak menjual sajadah dan rukuhnya. Akhirnya, sebisa mungkin kami selalu shalat di mushala atau masjid sehingga Emak bisa meminjam rukuh yang disediakan di sana dan tak perlu khawatir dengan sajadah.

Nah, seminggu yang lalu Emak di beri rukuh oleh seorang ibu yang di rumahnya Emak biasa mencucikan baju. Emak kelihatan senang sekali. Sekarang tinggal sajadahnya. Ah, aku ingin sekali melihat Emak shalat dengan rukuh dan sajadahnya sendiri. Kalau saja aku boleh ikut teman-teman yang lain menyemir sepatu atau mengamen di jalan. Tapi aneh juga sih, kalau mengamen bagaimana caraku menyanyi? Aku kan tuna wicara. Alat musik juga seadanya. Semir sepatu juga butuh uang untuk membelinya. Belum lagi kalau ketahuan Emak aku bekerja di jalanan. Aduh… pusing deh. Lalu dari mana aku dapat uang untuk beli sajadah?

Usai shalat di mushala, kami kembali ke rumah. Ku buka lemari pakaianku untuk mengganti sarung dengan celana panjang. Mataku tertuju pada selembar karung terigu warna putih yang sudah di cuci bersih, setumpuk pakaian warna-warni yang sudah tidak muat lagi, gunting, benang dan jarum jahit. Aha! Sepertinya aku dapat ide!
22 Desember, kira-kira tiga bulan kemudian, ideku sudah selesai dilaksanakan. Pakaian kekecilan yang berwarna-warni kuguntingi membentuk masjid dan hiasan-hiasan lain lalu kujahit di atas karung terigu. Tak sabar rasanya menunggu Emak pulang sore ini.

Azan Maghrib berkumandang ketika Emak pulang dan tersenyum melihatku menunggunya di depan pintu. Dan ketika sudah waktunya kami ke mushala, aku berpamitan untuk pergi mendului ke mushala untuk shalat Maghrib sambil menitipkan sepucuk surat. Emak yang bingung melihat tingkahku hanya melongo. Ah, aku grogi nih, dag-dig-dug rasanya debaran jantungku. Aku ingin agar Emak lebih dulu membaca suratku sebelum membuka kejutan yang kusiapkan.

“Emak, terima kasih, ya, sudah menyekolahkan Endra. Tapi Endra sedih waktu Emak harus jual rukuh dan sajadah untuk bayar sekolah. Mak, sekarang kan Emak sudah punya rukuh, tapi belum punya sajadah. Endra ingin sekali lihat Emak pakai sajadah. Tapi Endra nggak punya uang untuk beli. Karena itu Endra bikin sendiri. Semoga Emak suka. Selamat Hari Ibu, ya, Mak. Endra sayang deh sama Emak. Hatur nuhun, Emak. Dari Endra, anak Emak yang paling ganteng hehehe…”
Dari balik pintu ku lihat Emak terkejut membaca tulisanku. Aduh, Emak kok malah nangis ya? Aduh, memangnya tadi aku nulis apa sih? Atau hasil karyaku jelek buat Emak? Ah, sudahlah, tunggu saja di sini, batinku.

Tak lama kemudian Emak keluar dan mendapati aku yang berdiri di balik pintu. Emak berlutut dan menciumiku sambil menangis sembari mengucapkan terima kasih berulang kali. Senangnya hatiku, tidak sia-sia kukorbankan waktu bermainku selama tiga bulan ini.
Hari itu hari yang paling indah bagiku. Melihat senyum Emak terasa seperti surga buatku meski hingga kini aku masih tidak tahu seperti apa dan di mana surga itu berada. Sajadah itu pula yang menjadi kenanganku dengan Emak sebelum Pemilik Surga memanggilnya. Selamat jalan, Emak.

Mama Jangan Pergi


“Raka…raka…!” teriak mama yang memeanggil Raka. tapi Raka tidak memperdulikannya, ia malah asyik main PS.
“Raka, cepet mandi, setelah itu belajar!”
“enggak aahh mah males nanti dulu.”
Jam dinding pun menunjukan pukul 20.00, akhirnya Raka pun berhenti bermain PS, dan lekas mandi. Setelah mandi dia langsung tidur bukannya belajar, hal ini yang selalu membuat mama ngomel terus ke Raka.
Mama pun masuk ke kamar Raka.

“Raka kok malah tidur? bukannya besok kamu ada ulangan Matematika? tanya mama yang penuh perhatian kepada Raka, “enggak aah mah males, Raka ngantuk mau tidur aja.!” jawab Raka ketus.
“ya sudah mungkin kamu lelah, istirahat saja ya nak, besok kan sekolah” kata mama lemah lembut.
mama pun keluar dari kamar Raka dan segera masuk ke kamar nya.

Tiba tiba saat di kamar penyakit jantung mama kambuh, mama sudah mengida penyakit jantung selama 5 tahun yang lalu, tapi mama dan papa Raka tidak pernah memberi tahu Raka,karena takut Raka sedih, soalnya Raka anak satu satu nya.
Esok hari Raka pun pergi sekolah, dengan wajah ceria, padahal tadi malam dia tidak belajar untuk menghadapi ulangan nanti.
Kring… Kring… Kring… bell masuk sekolah.
Saat nya pelajaran Matematika, Pak Agus pun masuk.

“anak anak sekarang kita ulangan, siap tidak siap keluarkan alat tulis kalian”
“Aduh gimana nih, aku kan belum belajar tadi malam. aaahh bodo amatlah nanti tang ting tung aja, gampangkan” pikir Raka dalam hati.
selama ulangan berjalan Raka hanya menjawab asal asalan, setelah selesai, ulangan dikumpulkan. Pak Agus pun langsung mengoreksinya.
“Tedyuko Chan, kamu dapat 100, Nicholaus Fernando kamu dapat 9.8, Izumi Akasi Lee kamu dapat 9.6, Kohasi Atari kamu dapat 8.9, Keenan Willson kamu dapat 8.4, Raka Emmanuel………………. kamu dapat 3.2″ seru Pak Agus panjang lebar.
“HAAAAAAAAAH, Aku dapat 3.2?” Raka pun terkejut.

Kring… Kring… Kring… bell pulang sekolah, anak anak SD Christian School International pun pulang, ada yang naik jemputan, dan ada pula yang di jemput orangtua nya. Raka yang biasanya di jemput papa nya, kali ini papa nya jemput agak lama.
“aduh papa mana sih? udah tau kan panas!” keluh Raka.
Tak lama kemudian mobil papa nya Raka pun datang.
“Raka ayo cepat masuk mobil!” pinta papa.
“iya pa” jawab Raka singkat.

Selama perjalanan papa hanya diam saja tidak seprti biasanya. Hal ini membuat Raka bingung.” papa kenapa ya? biasanya setelah aku pulang sekolah pasti papa nanya apakah ada PR (Pekerjaan Rumah) atau tidak.” Pikir Raka dalam hati.
Sesampai di rumah,hal ini membuat Raka bingung, kenapa ada bendera kuning di depan rumahnya, dan banyak sekali orang yang memakai baju hitam.
“Pa ada apa ini? kenapa pada pakai baju hitam? dan di depan rumah juga ada bendera kuning.?” Tanya Raka.
papa terdiam sejenak dan akhirnya menjelas kan semuanya. kalau mama nya telah pergi untuk selamanya. Raka pun langsung berlari dan menemui jasad mamanya.
“ma….. mama jangan pergi,jangan tinggalin Raka ma… Raka enggak mau sendiri, maafin Raka ma… atas semua salah Raka, Raka janji enggak akan ulangin lagi.. hiks…. hiks.. hiks… maaa…. mama…” begitulah tangis Raka.
Raka masih sangat kehilangan mamanya, dia pun berjanji akan rajin belajar unyuk mamanya senang di surga sana!
“ma, mama adalah perempuan paling istimewa dihati Raka, Raka janji akan belajar supanya mama senang disurga sana! I LOVE U Mom, aku akan selau merindukan mu, selamat jalan ma!” Tangis Raka yang tak henti henti.

Ternyata Ibu Perduli


Namaku wilania. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Umurku kini 15 tahun. Aku tinggal dengan keluarga yang berkecukupan. Ayahku bernama Jaenal, beliau berumur 49 tahun. Ayahku sudah dua tahun bekerja di Jepang sebagai businessman dan ia pulang ke rumah hanya tiga bulan sekali. Lalu ibuku bernama Ayira, beliau berumur 44 tahun. Dan kakakku bernama Meiriska Hanna, dia berumur 17 tahun.

Hari semakin gelap dan hujan turun membasahi kami yang sedang menunggu jemputan. Menunggu sampai sore dan akhirnya jemputan kami datang. “huh… Gimana sih pak. Kok lama banget datangnya?” tanya kak Hanna, panggilanku untuknya. “iya… Maaf mba, tadi ban mobilnya bocor”. Jawab pak Karim, sopir pribadi keluarga kami. Setelah beberapa menit di perjalanan menuju rumah, akhirnya tiba juga di rumah. “ibu… Kita pulang” teriakku sambil mencari ibu. “wah… Hanna gimana ujiannya? Kamu bisa mengerjakannya?” tanya ibu sambil menarik tangan ka Hanna. “bisa bu… Ya ada yang bikin bingung juga sih bu. Tapi aku bisa menyelesaikannya kok” jawab kak hanna dengan gembira. Aku mendengarkan mereka berbicara dan bercanda. Karena aku merasa seperti tidak ada di hadapan mereka, aku meninggalkan mereka dan masuk ke dapur untuk mencari makanan. Aku melihat meja makan yang kosong, tidak ada makanan yang disediakan. “ibu… Kok ga ada makanan? Aku kan laper bu, habis ujian” sindirku kepada ibu. “iya wila… Ibu ga masak. Kamu mesen aja di luar” seru ibu dengan teriakannya. Saat ku telepon Pizza Hut untuk memesan pizza, tiba-tiba ibu datang ke dapur dengan menggandeng kakak. “wil pesennya dua yah, buat kakakmu juga. Kasian tadi dia kebingungan ngisi kertas ujiannya” pinta ibu kepadaku sambil memberi kakak minum. Selesai menelepon, aku pergi ke kamar. Kubuka buka catatan diaryku yang pertama kubeli. Aku menulis kejadian yang sangat menyedihkan dan membahagiakan.

Setelah setengah jam aku menunggu pesanan, akhirnya datang juga pesanan yang kupesan itu. “tok… Tok..” Terdengar suara ketukan pintu dari ruang tamu. Kuhampiri ruang tamu untuk membukakan pintu tapi ibu sudah membukakan pintu itu. Setelah ibu memberi uang kepada pengantar pizza, ia memberikan pizza tersebut kepadaku. “nih, pizzanya. Jangan lupa kakakmu kasih” “iya bu..”. Aku langsung pergi ke dapur dan memanggil kak Hanna. “kak… Pizzanya udah datang nih. Buruan ke meja makan” panggilku kepada kak Hanna. Kemudian kak Hanna keluar dari kamarnya “Wil, punyaku mana? Yang ini atau yang itu?” Sambil menunjuk dua pizza tersebut. “yang mana aja kali kak. Kan sama aja rasanya” jawabku. “kakak kira kamu pesen yang beda rasa sama pizza kakak. Jadi kakak tanya dulu” jelas kak Hanna. “bu… Mau pizza ga nih? Aku sisihin ya” teriak kak hanna memanggil ibu. Karena suara kak Hanna sangat keras, ibu langsung menghampirinya “ada apa sih Hann?” Tanya ibu kepada kak Hanna. “ibu mau ga? Nih aku sisihin” tanya kak hanna kepada ibu. Setelah aku menghabiskan pizza itu sendirian, tiba–tiba kepalaku pusing dan mengeluarkan darah dari hidungku. “Wil? Kamu kenapa. Ada darah di hidungmu” tanya kak Hanna kepadaku. Tak sempat kujawab pertanyaannya, aku langsung tak sadarkan diri.

Mataku mulai terbuka melihat ke sekeliling ruangan. “aku dimana?” Gumamku. “Wil gimana keadaanmu?” Tanya seseorang yang ada di sebelah kananku. “kak Hanna.. Ini dimana kak?” Tanyaku. “rumah sakit… Tadi kamu pingsan. Karena aku dan ibu panik, ya kita bawa kamu ke rumah sakit” terangnya. Aku melihat ke sekeliling ruangan, dan tidak melihat ibu. Aku berpikir kalau ibu tidak peduli dengan keadaanku. “kak Hanna, ibu mana?” Tanyaku penasaran kepada kak Hanna. “oh ibu, karena ia panik, ibu menelepon ambulan dan ia tidak ikut karena ingin memberitahu ayah tentangmu” “oh ternyata ibu masih peduli kepadaku” gumam hatiku. Kak Hanna tiba–tiba ingin keluar ruangan. “Wil, kakak mau cari sinyal ya, disini sinyalnya jelek. Cuma sebentar kok, kakak pasti balik lagi” sambil tersenyum padaku. Dan kubalas senyumannya dengan maksud memberikan persetujuan.

Beberapa jam kemudian, pak dokter menghampiriku yang sedang berbaring. “namamu Wilania kan?” Tanyanya ke padaku. “iya dok, dokter yang periksa saya?” “iya… Ibu kamu ada?”. Aku heran dengan pak dokter yang menanyakan ibu, karena yang sakit kan aku bukan ibu. “memangnya ada apa dok? Kok tanya ibu?” Sedikit penasaran kutanya langsung kepada pak dokter. “mau ngasih laporan tentang keadaanmu” jawab pak dokter. “ya sudah, kasih tahu ke saya aja dok” saranku. “jangan… Kamu masih belum mengerti” cegah pak dokter. “brak…” Suara pintu terbuka. “eh ibu… Ibu darimana saja?” Tanyaku kepada ibu. “tadi ibu telepon ayahmu dulu. Eh pak dokter, lagi apa pak?” Tanya ibu kepada pak dokter. “kebetulan ibu datang. Tadi saya menanyakan ibu kepada Wilania. Saya ingin melaporkan hasil tes anak ibu” “oh, kalau begitu ayo pak. Tapi Jangan disini pak, di luar saja” ibu mempersilahkan pak Dokter ke luar ruangan. Karena aku begitu heran dengan pak dokter yang sedikit menutupi keadaanku. Aku mengintip dan mendengarkan mereka dari selah–selah pintu. Saat aku mendengarkan mereka bicara, pak dokter mengatakan “ker”. Kemudian aku melihat ibu sedih. Kudengarkan perkataan pak dokter yang mengulang kata “ker”. “hah…” Gumam hatiku dan aku terdiam mendengar kata “kanker”. “stadium berapa dok?” Tanya ibu kepada pak dokter dengan nada rendah. “stadium akhir” pak dokter menunduk. “apa…?” Ibu terkejut mendengarnya. Dan aku pun tak menyangka akan separah itu keadaanku. “tapi dok, kenapa tidak ada tanda–tanda Wila terkena kanker dok? Setahu saya Wila tidak pernah mimisan dan hanya kali ini dia mimisan dan pingsan” ibu menitikan air mata. “mungkin anak ibu menutupinya” jawab pak dokter. Karena mendengar ucapan pak dokter tersebut, aku langsung berbaring kembali ke tempat tidur dan memikirkan kembali apa yang tadi pak dokter katakan.

Tiba–tiba ibu menghampiriku dan aku melihat wajah ibu tidak sedih. Sepertinya ibu menutupinya. Ibu tersenyum padaku dan kubalas senyumannya. “Wil, sebelum pingsan kamu mimisan. Apakah kamu sering mimisan?” Tanya ibu kepadaku dengan ragu. “aku lupa bu” aku menoleh ke arah kiri. “jangan bohong… Kamu” ibu membentakku. Aku terkejut dengan bentakkan ibu dan terdiam. “bu… Aku sakit apa? Sampai ibu membentakku seperti itu?” Tanyaku sambil menitikan air mata. “engga… Kamu ga sakit keras kok” sambil memalingkan wajahnya ke arah kiri dan ia pun pergi. Aku memikirkan tentang diriku mimisan. Seingatku pertama kali mimisan yaitu waktu kelas tiga SMP. Saat itu aku sedang makan siang di sekolah. Dan setiap sebulan sekali aku mimisan. Tapi saat ini setiap semingu sekali aku selalu mimisan. Karena kau takut dimarahi, aku tidak memberitahukan kepada kedua orangtuaku.

Setelah seminggu aku dirawat di rumah sakit. Sesuatu terjadi kepadaku, Rambutku mulai rontok dan tubuhku semakin melemah. Sepertinya penyakit itu telah menjalar ke seluruh tubuhku. Setiap hari selalu ada yang mengunjungiku. Baik temanku maupun teman–teman kedua orangtuaku. “gimana kamu, Wil? Udah seminggu ga masuk ke sekolah” tanya salah satu temanku yang bernama Gita. “iya nih… Aku juga ingin segera keluar dari sini” sambil cemberut. Karena aku begitu rindu dengan buku diaryku, aku meminta tolong kepada Gita untuk mengambilnya di rumahku. Tapi aku ingin dia tidak diketahui oleh ibu. “Git, aku punya satu permintaan untukmu. Tapi apakah kamu bersedia?” Tanyaku kepada Gita dengan tenang. “apa Wil? Silahkan saja, aku ini kan teman dekatmu” jawab Gita dengan mengelus rambutku. “aku ingin kamu mengambil buku diaryku di kamarku. Tapi tanpa sepengetahuan ibuku” kutatap matanya. Gita pun terkejut karena untuk menolongku mengambilkan diary itu gampang tapi untuk tidak diketahui ibuku itu susah. “akan kucoba Wil” jawab Gita dengan tersenyum kepadaku. Dan kubalas senyumannya.

Keesokan harinya Gita datang ke rumah sakit. “Wila, aku dapatkan diarymu” sambil memelukku yang sedang berbaring. “oh ya… Mana?” Sambil tanganku meminta. “ini dia” dengan tersenyum Gita memberikan kepadaku. “oh… Terimakasih Git. Kamu memang teman dekatku yang baik” saku memeluk daryku dengan erat. “memangnya apa yang kamu tulis sih di diarymu itu? Sehingga kamu ingin diary itu”. “aku sudah tulis kesedihanku dan kebahagiaanku tentang keluargaku. Jadi jika suatu saat nanti aku menghilang. Kesedihanku dan kebahagiaanku selama ini tertulis di diaryku ini. Nanti kamu kasih ke kakak atau ke ibuku atau siapalah yang penting keluargaku, yah…”. “iya Wil. Tapi kamu jangan ngomong gitu ah. Kamu pasti sembuh” Gita menyemangatiku dengan senyuman dan dukungan.

Sudah dua bulan aku berbaring di rumah sakit. Namun kali ini tubuhku sudah tak bisa bergerak dan kepalaku sudah tidak ditumbuhi rambut. Dan hari kemarinlah aku terakhir menulis di catatan diaryku. Mungkin ini memang takdirku. Kini ayahku tiba di Indonesia untuk menjengukku. Dan begitu pula yang lainnya. Mereka semua tinggal di rumah sakit untuk menemaniku. “ibu… sepertinya aku akan pergi bu, aku minta maaf karena aku mengira ibu tidak peduli kepadaku” kalimat yang ku ucapkan kini tak jelas. “ada apa Wil?” Tanya kakak. Aku hanya menggelengkan kepala. Semua keluargaku berkumpul dihadapanku. Mereka menatapku seperti kasihan kepadaku. Aku tak sanggup untuk melihat wajah mereka sehingga aku menitikan air mata. “ada yang kamu mau katakan?” Tanya ayahku. “iya… Aku ingin kalian tahu. Bahwa aku menyayangi kalian semua” begitu sulit aku mengucapkannya. Mereka tidak mengerti perkataanku, demi kejelasan perkataanku. Mereka memberikanku abjad dan aku hanya mengangguk jika salah satu abjad itu ditunjuk oleh kakakku benar. Setelah selesai, beru mereka mengerti apa yang aku katakan. “Wil, ibu mohon kamu jangan tinggalkan ibu. Ibu belum melihatmu bahagia”. Kemudian ibu menangis dan aku sedih melihatnya. Aku tersenyum menandakan aku bahagia. Setelah mengatakan hal tersebut mataku mulai bergoyang dan perlahan–lahan pandanganku memudar. Mungkin ini terakhir aku hidup, dan mataku tertutup untuk selamanya. Mereka semua menangisiku, sebelum tubuhku tidak bisa bergerak dan aku pergi selamanya. Aku menyimpan buku diaryku di atas meja.
“bu… Ini buku diarynya Wila. Tertinggal di meja” sambil menyodorkan diaryku kepada ibu. Ibu mulai membaca dari cover buku diaryku “kesedihanku–kebahagiaanku”. Ibu membaca diaryku dengan menitikan air mata. Karena aku menulis dari awal kubeli buku diaryku sampai akhir hidupku.

Inti Isi diaryku “ibu, aku kira ibu tidak peduli kepadaku. Aku melihat ibu hanya peduli dengan kakak saja. Tapi aku yakin ibu menyayangiku. Ibu… Aku sering menutupi tentang keadaanku. Aku selalu mimisan dan tidak pernah memberitahukanmu. Aku takut dan sedih jika ibu tahu. Aku baru sadar ibu peduli kepadaku saat aku mulai lemah. Tapi itu tak apa. Meskipun hanya akhir–akhir ini tapi aku yakin ibu sangat menyayangiku. Ibu, ayah dan kakak kalian harus tahu meskipun aku tak ada aku akan ada di dalam hati kalian”.

Kisah Perjuangan Seorang Ibu



Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.

Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.


Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah.

Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.

Dan kemudian berkata kepada ibunya: " Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah". Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata : "Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan kesekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana".

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya.

Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.


Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.

pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: "Masih dengan beras yang sama". Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : "Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna.
Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya" .


Sang ibu sedikit takut dan berkata : "Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : "Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam- macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: "Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !".


Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: "Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: "Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi."

Selama ini dia tidak memberi tahu sanak saudaranya yang ada dikampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya.


Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi kekampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan-pelan kembali kekampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan kesekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata: "Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu." Sang ibu buru- buru menolak dan berkata: "Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam- diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah Tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi qing hua dengan nilai 627 point.

Dihari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk diatas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.

Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju kedepan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah.

Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata : "Inilah sang ibu dalam cerita tadi."

Dan mempersilakan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik keatas mimbar.

Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat kebelakang dan melihat gurunya menuntun mamanya berjalan keatas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan mama yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat mamanya dan berkata: "Oh Mamaku...... ......... ...


Inti dari Cerita ini adalah:

Pepatah mengatakan: "Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan" Inilah kasih seorang mama yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak. Hati mulia seorang mama demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses dimasa depannya. Mulai sekarang, katakanlah kepada mama dimanapun mama kita berada dengan satu kalimat: " Terimakasih Mama.. Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu. .. selamanya".

Sebaris Nyanyian dari Ibu



Ibuku malang ibuku tersayang…
Tatap matamu Satu,
seakan kasih sebening kaca.
Masa-masa duka,
Kau bangkitkan gaya jua
Dalam mengarungI gelombang samudra hidup ini.
Nasib tiada pernah kau ratapi
Kau terima dengan tabah
Kehidupan ini kau anggap bagai menggarap sawah
Dengan keringat sendiri kau tanamkan rasa harga diri.

Nyanyian itu tak akan pernah terlupakan olehku. Nyanyian yang mengingatkan aku akan ibu yang telah melahirkan aku dan membesarkanku hingga aku menjadi seperti ini. Aku sangat bersyukur karena aku mempunyai seorang ibu yang berhati mulia, yang setiap malam selalu mengantar aku tidur sambil menyanyikan lagu itu, menasehati aku, memberikan aku pujian dan membuat aku bangga padanya karena ketabahan hatinya. Meskipun sering kali aku membuatnya kecewa tapi ibu tak pernah sedikitpun membesarkanya.

Dia tahu bagaimana yang seharusnya dia lakukan untuk memberiku semangat ketika aku merasa terpuruk, patah hati dan hilang kendali. Ibu adalah teman yang selalu mengisi hariku dan tempat berlabuh dimana semua kekesalan ku terobati. Ibu, aku rindu padamu...kapan kau akan menyanyikan lagu itu lagi? Kapan kau akan menjaga aku ketika aku tengah sekarat, dikala tak mampu untuk menyuap makanan. Kaulah penolongku ibu. Aku rindu semua itu. Biar sedewasa apupun diriku, jika berada di dekapmu aku merasa diriku seperti sepuluh tahun yang lalu. Merengek, manja dan selalu ceroboh.

Akhir-akhir ini, Aku tahu kau merasa  terkekang dengan sikap ayah, merasa dihianati, merasa tak dihargai. Aku tahu kau sangat prustasi. Sering kali dalam keluarga kita terjadi percecokan dan semua kesalahan selalu dilimpahkan padamu. Kau menerimanya dengan lapang meskipun kau tahu sendiri kalau itu bukan kesalahmu. Ayah tak tahu apa-apa tentang kasih sayang yang kau berikan kepada kami. Dia hanya bisa menuntut dan menuntut agar kita menuruti semua kemauannya dan jika tidak, kitalah yang dianggap tak tahu berterima kasih atas nafkahnya.

Kau tak pernah menyadarinya ibu, sehabis kau dan ayah bertengkar, aku tak pernah absen mengintipmu yang sedang menangis termangut-mangut dan kau sesekali menyalahkan dirimu sendiri. Ketika aku mulai terhanyut oleh tangisanmu, tanpa aku menyadari air mataku ikut menetes. Setitik, dua titik hingga mataku sembab.

Tak berakhir di situ. Semua orang mengejekmu, menghinamu karena kau dianggap tak berhasil dalam mengurus keluarga, karena kau disebut-sebut sebagai wanita jalang dan materialistis. Padahal mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya pandai membuat masalah baru tanpa mengintropeksi diri mereka terlebih dahulu.

Aku jadi geram mendengar kata-kata mereka. Kalau saja mereka bukan keluarga dekat kita, ingin rasanya aku menghantam dan menjahit mulut mereka agar berhenti membuat gosip yang tak sedap mengenaimu. Bukanya aku tak berani membelamu, hanya saja mereka terlalu tua, dan bukankah ibu pernah menasehatiku, ”kalau ada orang yang berbuat nggak baik terhadap kita, kita harus diamkan karena karma masih berlaku di muka bumi ini Ka.” dan aku sangat, sangat menghargai nasehatmu itu.

Itu bukan sekali, dua kali kau mendapat perlakuan tidak baik dari mereka. Mereka memang nggak punya perasaan Bu, dan yang terakhir kau di fitnah berselingkuh hingga terjadi percecokan yang paling hebat dari yang sebelumnya. Sebegitu tak tahannya dirimu atas ketidakadilan tersebut, kau terpaksa pergi meninggalkan aku dan Deddy. Kau pergi tepat pada saat aku terjaga oleh mimpi meskipun tanpa nyanyian itu. Kau pergi pada tanggal 17 januari 2010, pukul empat ketika fajar belum tampak dari wajah bumi. Kau pergi dengan membawa luka serta kesedihanmu. Padahal tujuh hari sebelumnya, kita baru saja melangsungkan pesta ulang tahunmu yang ke-38.

Aku bingung mencarimu ibu. Aku mencoba untuk menghubungi kerabat dekat, kerabat jauh bahkan temanmu. Bertanya dimana kini kau berada, tapi mereka sama sekali tak mengetahuinya dan balik menanyaiku. Aku menangis ibu, dan kau tak tahu seberapa besar kekawatiranku dan Deddy yang begitu panik mencarimu kemana-mana. Seakan-akan kami berdua baru saja kehilangan jiwa kami, aku merasa tubuhku kosong, nafasku terasa berat. Berhari-hari aku mengingat dan memikirkan keadaanmu. Aku takut kalau sakit yang kau derita kambuh lagi karena kau tak akan mampu melangkah  jika sakit itu kambuh. Aku takut jika aku tak bisa menemuimu lagi dan mendengarkanmu menyanyikan lagu itu untukku.

Bu saat itu tak ada lagi sandaran buat aku untuk bercerita. Tak ada lagi orang yang bisa aku percaya. Ayah terlalu sibuk dengan masa dudanya, adik juga, mereka hanya sibuk dengan diri mereka sendiri. Akulah kini yang bertanggung jawab, mengerjakan segala sesuatu di rumah. Ibu, sekarang  aku tak bisa menikmati masa remajaku, itu semua karena tanggung jawabku yang tak bisa aku tinggalkan. Kerap kali aku jadi stres karena aku harus membagi waktuku antara kuliah dengan kerjaan. Aku juga tak pernah dihargai oleh mereka. Aku selalu saja dianggap tak bisa membuat mereka bangga, padahal mereka tahu sendiri bagaimana letihnya aku karena memikul beban ini sendirian.

Ibu andai saja ada dua pilihan, satu-satunya yang kupilih adalah ikut bersamamu, andai saja wanita Bali bebas memilih adat, aku yang pertama kali yang akan ikut adatmu, asalkan aku tetap berada di dekatmu, mendengarkan nyanyianmu, itu sudah membuatku merasa nyaman.

Sekali lagi aku ingin mendengarkan nyangiann itu ibu. Jika kita dipertemukan kembali, aku ingin kau nyanyikan lagu itu lagi untukku seperti sepuluh tahun yang lalu di saat aku masih merengek-rengek dan selalu minta  kau rangkul.

Itu tadi beberapa kisah kumpulan cerpen tenatng Ibu yang diambil dari koleksi cerpenmu.com. Semoga cerpen cerpen tentang Ibu tadi membuat kita semua semakin menyayangi Ibu. Bahkan Nabi Muhammad memerintahkan kita untuk menyayangi Ibu kita 3 kali lipat lebih daripada kasih sayang kita kepada Bapak kita. Karena surga ada dibawah telapak kaki Ibu.

Kumpulan Cerpen Lucu Gokil Singkat Paling Kocak

Kumpulan cerpen lucu dan gokil  paling lengkap dan paling komplit ada disini, ada cerpen lucu cingkat, cerpen lucu gokil, cepren lucu padat, cerpen lucu agak panjang dan cerpen lucu mengharukan. Semua ada di sini bagaikan tempat belanja one stop shoping pokoknya semua ada dan semua gokil. Tidak percaya? Silakan baca sendiri kalau tidak lucu unag kembali. Hehehhe pokonya dijamin lucu dan gokil dah.


Kumpulan Cerpen Lucu Gokil Singkat Paling Kocak
Cerita lucu dan cerita gokil memang tidak enak kalau terlalu panjang, makanya harus berbentuk cerpen lucu dan gokil yang singkat dan padat, tetapi tidak merayap, kalau merayap sih itu kemacetan ibu kota yang lebih kejam daripada ibu tiri? Iya kan sob? Makanya saya sendiri tidak betah tinggal di ibu kota Jakarta, bar kata semua ada, tapi susah jalannya karena macet. Kumpulan cerpen gokil dan lucu ini dihimpun dari berbagai perhimpunan, pokoknya hunting sana sini, semua untuk sobat setia.


Cerpen Lucu & Gokil 1 - Salah Nurunin Resleting


Tumini seorang wanita dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya.

Bus kota datang, tumini berusaha naik lewat pintu belakang, tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus. Menyadari keketatan roknya, tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar.

Tapi, ough, masih juga belum bisa naik. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya. Belum bisa naik juga ke tangga bus. Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.

Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya, ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini.

“Hei, kurang ajar kau. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang!”

Si pemuda menjawab kalem, “Yang nggak sopan itu situ, Mbak. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue.”

Cerpen Lucu & Gokil 2 - Pengorbanan Menjemput Adik


Hari sudah mulai gelap, aku rasa, ku harus menjemput adikku di rumah paman, sebenarnya aku baru ke-2 kalinya ke rumah pamanku, aku rasa yang pertama sejak aku masih di dalam kandungan. Hari terus menggelap aku menaikan kecepatan sepedahku, dan akhirnya aku sampai, tapi sebenarnya aku sampai di hutan bukan rumah pamanku, aku kebingungan, kemana arah yang benar.
Di dalam hutan yang sunyi, sepi, aku tetap harus berjalan dan kemudian aku melihat sebuah lampu, yang sepertinya itu lampu mobil seseorang, kemudian aku mendekatinya dan ingin menumpang.
“pak, pak, tolong berhenti pak!” seruku.
“Ngiiittt…” (suara rem mobil si bapak itu)
“ada apa dek?” tanya supir mobil tersebut.
“pak, boleh saya numpang ikut mobil bapak?”
“tapi ada syaratnya dek!”
“apa pak?”
“tapi jagain ayam-ayam saya ya!”
“siap pak, akan saya laksanakan!”
Dan akhirnya aku menyesal karena menuruti syarat supir tersebut, aku duduk di gerbong belakang mobil yang isinya ayam semua, dan akhirnya aku sampai di depan rumah pamanku, tapi aku tidak langsung menuju rumah pamanku, aku mencari-cari mesjid, dan akhirnya aku ketemu mesjid yang jaraknya lumayan dekat dari rumah pamanku dan akhirnya aku langsung menuju tempat wudhu mensjid tersebut, bukanya aku ingin wudhu lalu sholat, tetapi aku ingin mencuci tubuhku yang dipenuhi kotoran ayam.
Akhirnya tubuhku sudah agak bersih, tinggal di bagian celanaku, lalu aku melihat keluar untuk melihat, ada orang atau tidak, lalu celanaku aku buka, lalu aku taruh, dan aku kaget karena ada suara orang adzan isya, aku langsung mencari-cari celanaku, aku lupa dimana aku menaruh celanaku, aku panik, dan tiba-tiba ada suara bapak-bapak yang akan menuju ke tempat wudhu, aku tambah panik, lalu aku nekad memanjat tembok tempat whudu tersebut, ternyata usahaku gatot (gagal total) celana dalamku tersangkut di paku, lalu aku tidak jadi lompat keluar, lalu aku masuk lagi ke dalam untuk melepaskan paku dari celana dalamku.
Ternyata aku salah perhitungan, celana dalamku tersangkut paku yang tingginya sampai satu meter, otomatis aku bergelantungan di atas tempat whudu, dan tiba-tiba bapak-bapak tersebut datang, bapak-bapak tersebut kaget sekali melihatku, lalu mereka keluar lagi, disana aku lega sekali, ternyata aku salah lagi, bapak-bapak itu malah membawa sapu dan ingin memukulku yang disangka aku orang gila, aku langsung memanjat kembali dan kabur ke rumah paman dengan menggunakan celana dalam yang robeknya sangat besar.

Cerpen Lucu & Gokil 3 - Anak Kecil Lagi…?



Hari minggu yang cerah. Waktunya bangun pagi, gosok gigi, mandi terus sholat subuh. Kebetulan hari ini sarapan lebih pagi daripada biasanya dengan menu nasi goreng plus telur ceplok.. hehe
“Anak mama yang manis jaga rumah ya, nanti ke pasar beli ikan dan bereskan rumah. Mama hari ini sibuk biasa job,” ucap mama mencium keningku setelah sarapan selesai lalu segera berangkat ke tempat bibi Nisa berbisnis kue kering.
“Mama apaan. Anak mama ini memang manis tapi jangan dianggap kaya anak kecil terus dong. Udah gede nih,” ucapku sebal dengan sikap mama padaku.
Mama hanya berlalu sambil tersenyum. “Iya anak mama yang katanya udah gede,” ucap mama lagi.

“Mama…” What.. ke pasar beli ikan, kalau beres-beres rumah nyapu dan ngepel sudah biasa hari minggu tapi kalau beli ikan biasanya dengan dampingan mama. Ya gak apa-apa lah demi mama.
Motor sudah siap di depan rumah karena ayahku rajin banget mengeluarkan motor dari rumah seakan mendukung aku untuk cepat-cepat berangkat ke pasar. “Padahal sudah mandi pagi, manis manis gini,” gumamku sambil tersenyum sendiri. Dengan baju santai karena tujuannya ke pasar dan gak lupa pakai kerudung langsung tancap gas.
Suasana pasar sudah ramai maklum jam sudah menunjuk angka setengah sembilan, dan pastinya ini sudah kesiangan kalau ke pasar. “Heeemmm.. ikan lautnya sudah tinggal sedikit. Beli apa ya yang enak,” gumamku sambil mataku melanglang buana kesana kemari mencari incaran ikan yang enak.
“Bibi, ikannya sekilo dong,” ucapku pada penjual ikan gabus. Bibinya lagi sibuk menimbang ikan pesanan pelanggan lain, jadi nunggu sebentar its okey lah.
“Ini dek ikannya,” kata bibi itu memasukkan ikan ke dalam kantong plastik. Aku segera membayar ikan tadi.
Aku berjalan-jalan sebentar sambil mengulur waktu supaya agak lamaan sedikit. Kulihat sekeliling sesuatu yang ku cari gak kelihatan. Sampai di sebuah lapak bibi penjual telur. “Telurnya dek 1500 satu,” tawar bibi itu. Tau aja kalau mata ini kesana kemari mencari telur. “Baru lo dek, dipilih sendiri mumpung tinggal sedikit.” Bibi ini nyambar aja dengan seribu jurus rayuan supaya aku tertarik.
“Ini bik 5 butir, eh sekalian 6 aja deh supaya uangnya gak susah. Sembilan ribu kan,” ucapku sembari membayar sedangkan bibi itu membungkus telur tadi.
“Adik masih sekolah ya?” tanya bibi itu.

“ehh iya bi,” jawabku mengiyakan karena kaget, padahal sih aku sudah gak sekolah tapi sudah kuliah.
“Sekolah di SMP sini ya dek?” tanya bibi itu lagi dengan wajah meyakinkan.
“ehmm bibi ini saya sudah lulus bi,” jawabku langsung dengan senyumku.
“Mari bi,” sambungku dan meninggalkan bibi itu dengan wajahku yang heran.
Masih saja aku dianggap sekolah, kalau anak SMA mending, ini di sangka anak SMP. Jadi sama siapapun dan di manapun baik itu mama sendiri atau bibi-bibi di pasar tetap aja aku gak dianggap gede, tetap anak kecil lagi. Masih imut-imut mungkin.. hehehe

Cerpen Lucu & Gokil 4 - Cerpen Lucu: Tukang Mie Ayam Main Facebook



Kejadian ini bermula ketika secara tak sengaja aku berpapasan dengan tukang mie ayam keliling yang biasa beredar di depan rumah. Siang itu, kulihat dia tengah berasyik masyuk di pinggir jalan, cekikikan sambil melihat sesuatu yang ada di tangannya. Bahkan saking asiknya, gerobak mie ayam itu ditinggalkannya begitu saja, seakan mengundang pemulung jail untuk mengangkutnya.

Karena penasaran, diriku pun bertanya:
"Mas Jason (panggil saja demikian, karena dia sering dipanggil Son ama pelanggannya "Son..mie ayamnya siji maning sooon.."), sedang apa kok asik bener di pojokan?"

"Eh mas ganteng...( satu hal yang aku suka dari Jason adalah : Orangnya suka
bicara Jujur!), ini mas, lagi update status!!..." jawab Mas Jason.

***WADEZIG!!!

"Weehhh... njenengan fesbukan juga to??" tanyaku heran.

"Ya iyalah mas... hareee geneee ga fesbukan?! Lagian kan lumayan juga buat menjaring pelanggan lewat fesbuk, kata pak Hermawan Kertajaya kan dalam berdagang kita harus selalu melakukan diferensiasi termasuk dalam hal pemasaran mass." jawabnya lagi dengan penuh keyakinan.

***GLEK!!
Gw yang sering naik Kereta ke Jawa aja gak tau kalo ada yg namanya Hermawan Kereta Jaya


"Emang mas statusnya apa?" tanyaku penasaran.

"Nih mas aku bacain:
Promo Mie Ayam, beli dua gratis satu mangkok, beli tiga gratis nambah kuah, beli empat gratis timbang badan...takutnya anda obesitas...segera saya tunggu di gang Jengkol, depan tengkulak Beras Mpok Hepi. Mie Ayam Jason: Melayani dengan Hati... ampela, usus dan jeroan ayam lainnya." sambil menunjukan handphone-nya.

***GUBRAK!!
Dua kosong untuk mas jason. Gw yg uda lama fesbukan aja ga bisa bikin status se--atraktif dia.

Tapi ada yg aneh pas kulirik ke handphone  yang dia pake. Aku kira handphone-nya blackberry atau minimal nokia seri baru yang uda bisa pake internetan. Selidik punya selidik, ternyata...handphone-nya lawas bin jadul. HP yang masih monokrom, suara belum poliponik, dan masih pake antena luar kayak radio AM.

"Mas, tapi kok bisa update fesbuk pake henpon sederhana gitu? (bahasa halusnya henpon lawas). Gimana caranya?? tanyaku bingung.

"Owwh.. gampang mas, saya tinggal nulis statusnya lewat SMS lalu kirim ke Tri.” jawab dia datar.

"Ohh.. mas nya pake Kartu Three ya? Yang gratis internetan itu?" tanyaku lagi.

"Bukaaaan mas, Tri itu lengkapnya Tri Ambarwati. Dia itu pacar saya, sama-sama dari Tegal, yang kerjaannya jagain Warnet 24 Jam! Jadi kalo butuh update, tinggal sms dia aja nanti dia yang gantiin status saya. Lha wong dia tiap hari di depan komputer jagain warnet. Paling sebagai balesannya saya gratisin mie ayam seminggu sekali...murah to??" jawabnya sambil cengengesan.

Mendadak kepalaku pusing, bagaikan menderita dehidrasi akut sekaligus hipotermia tingkat tiga. Aku limbung mendengar jawaban SPEKTAKULER dari Mas Jason...BRUK!!

Cerpen Lucu & Gokil 5 - Telpon Iseng


Telepon berdering di kantor pusat FBI.
"Halo?"
"Halo, apakah ini FBI?"
"Ya. Apa yang Anda inginkan?"
"Saya menelepon untuk melaporkan tetangga saya Adrian Thibodeaux. Dia memiliki narkoba yang disembunyikan di dalam kayu bakarnya!"
"Terima kasih banyak untuk informasinya, Pak."
Hari berikutnya, para agen FBI turun di rumah Thibodeaux. Mereka mencari kayu bakar di gudang. Menggunakan kapak, mereka membelah setiap potong kayu, tetapi tidak menemukan narkoba. Mereka meminta maaf kepada Thibodeaux dan pergi.
Telepon berdering di rumah Thibodeaux.
"Hei, Adrian! Apakah FBI datang?"
"Yeah!"
"Apakah mereka memotong kayu bakar Anda?"
"Yap"
"Bagus, sekarang giliran Anda untuk menelepon, saya perlu taman saya untuk dicangkuli."
gimana?

Cerpen Lucu & Gokil 6 - Si Jono


Iteung baru saja di terima sebagai guru bimbingan konseling di sebuah sekolah.

Suatu hari dia melihat si Jono berdiri sendirian di pinggir lapangan belakang sekolah, sementara ada murid yang lain sedang asyik bermain bola di tengah lapangan.

Karena merasa kasihan, Item mendekat dan menyapa dengan ramah. "Hai Jono, bolehkah Bu Guru menemani kamu?"

"Iya, boleh Bu", Jono menjawab. Tapi pandangan mata anak itu masih tertuju pada teman-temannya di tengah lapangan.

"Ah, anak ini kasihan sekali.. Pasti dia ingin ikut bermain", pikir Iteung.

Sebagai guru bimbingan konseling yang baik, Iteung ingin tahu masalah apa yang membuat Jono menyendiri seperti itu.

Item pun bertanya, "Kenapa kamu berdiri di sini sendirian, jono?"

Jono menjawab "Saya sedang jadi kiper, Bu."

Iteung.... @#$%?_&^(/???)^_^

Cerpen Lucu & Gokil 7 - Larangan Ketika Tidur


Tidur merupakan salah satu cara istrihat yang paling baik dan maksimal. Sebagian besar anggota tubuh akan beristirahat ketika tidur. Kekurangan tidur bisa berbahaya bagi kesehatan. Tidur yang cukup akan membuat tubuh menjadi segar kembali dan bersiap untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari pada keesokan harinya. Namun tidur dengan cara yang salah juga bisa berakibat fatal dan menimbulkan penyakit. Inilah larangan-larangan ketika tidur yang wajib diketahui oleh semua orang.

1. Jangan tidur memakai jam tangan
Sebagaian besar tidak mengetahui, jam tangan menandung gelombang radioaktif, meskipun tak banyak tapi jika keadaan ini berlangsung terus-menurus akan berbahaya bagi tubuh.

2. Jangan tidur memakai bh
Menurut hasil temuan para ahli dari amerika, bahwa memakai bh diatas 12 jam disinyalir berpeluang besas mengakibatkan kanker payudara.

3. Jangan meletakkan HP diranjang ketika tidur
Usahakan untuk menaruh hp jauh dari tempat tidur karena gelombang radioaktif yang terpancar dari HP bisa membayakan dan merusak system syaraf manusia.

4. Jangan tidur memakai kosmetik
Bersihkan kosmetik saat hendak tidur karena pemakaian kosmetik ketika tidur dapat menyumbat pori-pori wajah dan menimbulkan masalah kulit.

5. Jangan tidur dengan istri orang
Jangan-jangan anda tidak bakalan bangun lagi (karena dibunuh suaminya)

6. Jangan coba-coba jadi polisi tidur, apalagi di jalan tol
Pikirkan sendiri.. tanya kenapa?

Cerpen Lucu & Gokil 8 - Seorang Profesor


Profesor Carter berjalan kaki mengunjungi rumah seorang temannya yang terletak di ujung jalan. Setelah makan malam dan bermain catur, dia berpamitan hendak pulang. Tapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan angin bertiup sangat kencang.

"Jangan pulang dulu, hujan sangat deras dan udara sangat dingin juga. Menginap saja di sini!," cegah temannya. Sang Profesor segera menyetujui tawaran tersebut. Maka temannya itu masuk ke dalam rumah dan menyuruh istrinya untuk menyiapkan tempat tidur.

Ketika dia keluar lagi ke ruang tamu, ternyata Profesor itu sudah tidak ada. Dia dan istrinya mencari-cari ke segala sudut rumah, tetapi tidak menemukan Profesor.

Tiba-tiba terdengar orang membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
"Profesor Carter! Darimana saja engkau?" seru temannya.
"Ya? aku pulang sebentar ke rumah untuk mengambil baju tidurku," jawab Profesor.

Cerpen Lucu & Gokil 9 – Naik Lift


Icha adalah salah satu karyawan hotel berbintang lima di Surabaya. Suatu hari dia mendapat telepon dari Fitri, teman masa kecilnya dan merekapun terlarut dalam obrolan hangat. Setelah beberapa lama mengobrol, mereka mempunyai ide untuk bertatap muka secara langsung guna melepas kerinduan diantara mereka. Karena Icha sangat sibuk dengan pekerjaanya dan tak bis meninggalkannya sedetikpun, mereka memutuskan untuk bertemu di tempat Icha bekerja yaitu di hotel Saturnus lantai 10 blok 01.

Singkat cerita, Fitri menuju hotel Saturnus. Sesampainya di lantai satu, Fitri kembali menelepon Icha.

Fitri : Hallo... Cha... sekarang aku sudah berada di lantai satu, tolong jemput aku yach!

Icha : Kamu langsung naik aja ke lantai sepuluh, liftnya disebelah resepsionis.

Fitri : Aku gak berani naik sendirian, aku kan orang asing di hotel ini, entar aku dikira orang jahat lagi!. Jemput aku dong, please...

Icha : Ya... okelah!. Tunggu bentar, jangan kemana-mana!.

Setelah beberapa saat menunggu, batang hidung Icha muncul juga dan Icha mengajak temannya itu untuk naik ke lantai sepuluh.

Icha : Aku heran sama kamu sekarang!.

Fitri : Emang kenapa dengan aku Cha?.

Icha : Dulu, waktu di sekolah, kamu kan cewek paling pemberani diantara yang lain, sampai-sampai kamu dijuluki cewek superman. Kok sekarang mau nemui aku aja minta dijemput segala!.

Fitri : (sambil berbisik dan sedikit menahan tawa), Jujur aja Cha..., sebenarnya aku itu gak tau cara menggunakan lift...!.

Icha : Hah....!!!???

Cerpen Lucu & Gokil 10 - Cerpen Lucu: Lo yang Berbuat, Gue yang Tanggung Jawab


Gue suka gedek sendiri kalo make modem yang murahan. Sebenernya sih nggak murahan juga, gue ngisi 50 perbulan lho dengan paket 1 giga. Si modem, waktu ditancepin di lobang USB (bukan lobang yang lain ya? :D) sinyal awalnya HDSPA ada empat strip. Hati seneng dong? Begitu gue buka Mozilla sinyal awal itu berubah jadi PA doang, empat stripnya raib tinggal satu. Bukan cuman koneksi lambat yang gue dapet, tapi problem loading page juga. Pengen gue banting rasanya si modem beserta laptop-laptopnya. Menghambat pekerjaan. Mana bisa survive kalo model internetan lemoy kayak gini? Asu! Sebel gue... Yasalam demi apa donlot file 3 mega aja lama bukan maen.

Yang bikin lebih kesel gini, waktu sinyal modem bener-bener HDSPA donlotnya lumayan cepet. Prosesnya sih terbilang cukup lancar jaya. 10%, 20%, 30%, 40%, sampe 96%... Yeahhh, dikit lagi, seru gue dalam hati. Cuman si sinyal itu ternyata nggak stabil. Dan sialnya, pas di 96% si sinyal HDSPA berubah menjadi sinyal PA dengan strip satu! Alih-alih donlotan gue sukses, malah failed. Ibarat kata, kayak orang onani tapi nggak dikeluarin. Pedihhh...

Kegagalan donlot ini sukses mood pagi gue merosot drastis.

"Lagi ngapain lu?" tiba-tiba suara seseorang nganggetin gue.

"Onani..." jawab gue cepet tapi ngasal, terkejut ditepuk pundaknya. Maklum, gue lagi tegang banget.

"Hah...?"

Gue tengok si empunya suara, ternyata Dedy, temen gue nyeles. " sori… donlot Ded." Gue nyengir kuda.

 “Ikut gue yuk…” kata Dedy.

“Kemana?”

“Nganter barang ke daerah Jakut. Urgent nih. Boss minta cepet. Tapi gue nggak ada temennya.”

Yah, demi menghilangkan kegedekan gue gara-gara donlotan, gue iyain ajakan Dedy. Itung-itung refreshing ngilangin stres di pagi hari.

***

Jalanan yang biasanya macet, hari ini, agak lancar-lancar jaya. Gue ngobrol ngalor-ngidul sama Dedy banyak hal. Gue baru tahu kalo bininya Dedy itu galak banget.

Lagi asik-asiknya ngobrol, tiba-tiba Dedy membanting setirnya dengan cepat ke kanan. Karena asik ngobrol Dedy nyetirnya miring-miring ke kiri. Duak. Bunyi benturan antara motor dan mobil. Gue tengok ke kiri, seorang pengemudi motor berhenti. Nggak jatuh sih. Jadi, gue cuekin ajah. Nggak bilang apa-apa sama si pengendara motor.

"Ded, gila lu, Ded," teriak gue ngeliat cara Dedy menyetir.

"Aduh, sori sori... gue nggak ngeliat ada motor tuh. Sompret…"

"Sori kepala lu, ntar kalo tuh motor beneran lu tabrak, gue ikut kena getahnya. Yang bener napa sih?"

Dedy diem aja mendengar cerocosan gue. Didiemin gitu gue ya mingkem juga akhirnya. Capek juga ngomel-ngomel begitu. Gue menarik napas dalam-dalam. Kata orang menarik napas panjang itu bisa menenangkan diri dari stress. Hisap lewat hidung keluarkan lewat mulut.... fuuuhhh...

Beberapa saat kemudian keadaan mulai bisa terkendali. Dedy udah nggak nyetir kayak orang mabal lagi. Santai, penuh keteraturan, dan penghayatan. Sementara gue bete cengok aja, gue mengambil rokok sebatang. Tiba-tiba sshhsss, si pengendara motor yang tadi diserempet Dedy ngebut menyalip kami. Setelah berhasil menyalip, dia berhenti agak jauh. Kayak nungguin sesuatu gituh.

Pas mobil kami udah berhasil menyalip si pengendara motor. Gue merhatiin si pengendara motor jalan pelan-pelan. Gue sih nggak mikir panjang. Nggak penting juga kayaknya. Yang ada di pikiran gue adalah ngerokok. Karena itu, gue mau buka jendela mobil. Mau ngerokok. Kan nggak enak juga ngerokok tanpa bukak jendela mobil. Pengap abisnya.

Pas itu, gue liat si pengendara motor udah ada di samping mobil, kepalanya nengok ke arah gue. Begitu kaca mobil udah gue buka, si pengendara motor itu juga ngebuka kaca helmnya sambil ngeliatin gue dengan tajam. Gue sih bodo amat. Yang salah kan Dedy, bukan gue. Terus gue ambil korek api, gue sulut rokok gue. Satu isepan gue keluarin keluar jendela... uuiih nikmat tiada tara. Gue nikmati hidup banget nih kalau begini. Si pengendara motor mendekat... dan sejurus kemudian cuhh... dia ngeludah terus ngomong, 'anjing lu ye...' Terus langsung cabut ngebut bersama motornya. Muka gue basah kena ludahnya dia yang meleleh-leleh. Siakek, bau banget jigongnya. Dedy terus ngeliatin gue. Terus ngakak nggak ada habis-habisnya.

"Yang salah kan lu, kok gue yang diludahin?" kata gue dengan muka yang nanar minta pembelaan.

Cerpen Lucu & Gokil 11 - Hantu Melamar Hantu


Pada suatu hari ada seorang hantu yang ingin melamar gadis, singkat kata begini ceritanya. Usro bertamu ke rumah gadis yang dikenalnya semalam sesuai petunjuk alamat yang diberikan kepadanya. Ketika bertemu dengan orang tua si gadis, dengan penuh harap, Usro berbicara dengan bapak si gadis.

Usro : Maaf, Pak, semalam saya berkenalan dengan Tinem, anak Bapak. Entahlah, saat itu juga saya jatuh hati kepadanya dan Tinem sendiri sudah bersedia menjadi pendamping saya. Untuk itulah saya datang kemari, untuk melamar Tini.

 Bapak : Apa??, bagaimana sih kamu nak? Tinem anak saya itu sudah meninggal 7 hari yang lalu karena kecelakaan!

Usro : Tidak apa-apa kok, Pak, saya sendiri juga sudah meninggal 100 hari yang lalu.

Bapak : #Nelen Kursi !!!!

Cerpen Lucu & Gokil 12 - PENYEBAB KEMATIAN


Ada dua pria, baru saja meninggal, sedang menunggu nasib di pintu akhirat, karena iseng, mereka kemudian mengobrol.

Pria 1: Kenapa kamu bisa meninggal ?
Pria 2: Mati beku
Pria 1: Bagaimana rasanya mati beku ?
Pria 2: Nggak terlalu sakit, mula2x merasa dingin, lalu merasa badan mulai beku, dan selanjutnya gampang saja, tahu2x saya sudah berada di sini, lha situ sendiri kenapa matinya ?
Pria 1: Serangan jantung, saya selalu curiga, istri saya ada main dengan cowok lain, jadi satu hari saya pulang kantor lebih cepat, saya mendengar suara pria, lalu segera saya lari ke kamar saya di lantai dua, istri saya ada di ranjang, tapi kok tidak ada orang lain, saya buka lemari pakaian, tidak ada orang, saya lari ke dapur dilantai satu, nggak ada orang, saya lari ke kamar mandi nggak ada orang juga, tapi saya lupa membuka kulkas, terus saya lari langsung ke lantai 3, & begitu sampai, saya kena serangan jantung & mati.
Pria 2: Sayang sekali, coba kalau waktu itu anda buka itu kulkas, mungkin kita berdua nggak bakal mati"

Cerpen Lucu & Gokil 13 - Waktu Kakek Masih Muda


Seorang kakek dengan bangga menceritakan masa mudanya kepada cucunya.

Kakek : "Suatu malam, ketika kakek masih muda dulu kakek pulang melewati lorong yang gelap. Tiba-tiba kakek di hadang oleh lima orang perampok. Dengan gagah kakek melawan mereka berlima sehingga terjadilah perkelahian yang seru. Akhirnya dengan keahlian berkelahi yang kakek miliki, kakek berhasil menjatuhkan empat orang perampok itu"

Cucu: "Wah, kakek jago juga ya! Trus perampok yg satunya gimana kek?"

Kakek : "Sttttsss.....dia itu yang bawa kakek ke rumah sakit".kata kakek sambil berbisik.

Cerpen Lucu & Gokil 14 - Kendi beracun


Ketika masih muda, Abu Nawas pernah bekerja di sebuah perusahaan jasa jahit pakaian. Suatu hari majikannya datang membawa satu kendi madu dan karena kuatir madu itu diminum Abu Nawas, maka majikannya berbohong dengan berkata, "Abu, kendi ini berisi racun dan aku tidak mau kamu mati karena meminumnya!!!"

Sang majikan pun pergi keluar, pada saat itu Abu Nawas menjual sepotong pakaian, kemudian menggunakan uangnya untuk membeli roti dan menghabiskan madu itu dengan rotinya.

Majikannya pun datang dan sadar bahwa pakaian yang dijualnya ternyata kurang satu sedangkan madu dalam kendi juga telah habis. Bertanya dia pada Abu Nawas, "Abu!!! Apa sebenarnya yang telah terjadi..?".

Abu Nawas menjawab, "Maaf tuan, tadi ada seorang pencuri yang mencuri pakaian tuan, lalu karena aku takut akan dimarahi tuan, jadi aku putuskan untuk bunuh diri saja menggunakan racun dalam kendi itu..."

Cerpen Lucu & Gokil 15 - Pemeras Kecil


Seorang anak kecil yang bandel melihat kakaknya dicium oleh teman lelakinya. Esok harinya, ia menemui lelaki itu.

“Abang semalam mencium kakakku bukan?”
“Ya, tapi jangan keras-keras. Ini seribu untuk tutup mulut!”
“Terima kasih, ini uang kembaliannya lima ratus!”
“Lho, kok pakai uang kembalian segala?”
“Saya tidak mau nakal, Bang. Semua orang yg mencium kakak juga saya tagih lima ratus!”
“???!!!”

Cerpen Lucu & Gokil 16 - Pamer Merek Parfum mewah


Seorang wanita tua naik lift di Gedung Kantor yang sangat mewah. Seorang wanita muda dan cantik masuk ke dalam lift dan berbau wangi lalu menoleh kepada wanita tua dan berkata angkuh, "Giorgio - Beverly Hills, $100 per ounce"
Wanita muda dan cantik berikutnya naik di lift dan juga sangat arogan menatap menjadi wanita tua itu dan berkata, "Chanel No 5, $150 per ounce!"
Sekitar tiga lantai kemudian, wanita tua itu telah mencapai tujuannya dan akan turun lift. Sebelum dia pergi, dia melihat kedua wanita cantik itu, tersenyum, lalu membungkuk, dan mengeluarkan sebuah kentut yang berbau paling busuk.
Dia meninggalkan kedua wanita itu di dalam lift, sambil mengatakan "Brokoli, 50sen sekilo!"

Cerpen Lucu & Gokil 17 - "Bibir Ajaib"


sepasang kekasih Dewal dan Noja lagi berduaan di ruang tamu,.

Noja : bang, bibir neng sariawan jadi agak susah ngomong,.

Dewal : sini biar abang cium pasti sembuh,.(cowok itu kemudian mencium bibir pacarnya), ” gimana rasanya???

Noja : gimana…gimana… gitu bang, ehm sariawan neng sembuh sih,. tp bang kok leher neng yang jadi sakit gini,.

Dewal: sini biar abang cium pasti sembuh,. (itu cowok lalu menciumi leher pacarnya)

Noja : woww,. sakitnya hilang bang,.. tapi sakitnya kok pindah ke dada neng ya??

Dewal : kalo gitu biar abang ciumin dada neng ya??

tiba-tiba nenek si cewek yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka berdua, muncul dan berkata,.

ehh nak Dewal, lu bisa sembuhin penyakit ambeien gue kali ya, kayaknya elu punya mulut ajaib gitu,. Tolong dong,.

Cerpen Lucu & Gokil 18 - Nama Ambil Dari Al-quran


Doni dan Tono adalah sahabat sejati, keduanya baru saja di karuniai seorang anak. dan pada suatu saat meraka bertemu terjadilah percakapan berikut.

Doni : No, anak lo namanya siapa?
Tono : Azis, ambil dari Al-quran tuh
Doni : anak gue namanya juga ambil dari Al-quran
Tono : siapa?
Doni : Saitonirojim
#tibatibahening


Cerpen Lucu & Gokil 19 - Cerita Lucu Maling
Alkisah suatu malam ada dua orang maling yang baru saja berhasil merampok sebuah warung
Maling 1 : Jon lu tadi ngambil barang apa aja?
Maling 2 : Gw ngambil perhiasan, duit, TV LCD 32 inchi sama HP BlackBerry Z10
Maling 1 : Kalo gw berhasil ngambil sendal dan hape samsung galaxy s4 si pemilik warung
Maling 2 : Jiah lu bego banget. Ngapain ngambil sendal. Kenapa ngga ngambil barang berharga oon.
Maling 1 : lu tuh yang bego. Gw ngambil sendal si pemilik warung supaya dia ngga bisa ngejar kita.
Maling Dua : ?!?!?!@##

Cerpen Lucu & Gokil 20 - JUAL KAMBING


Bejo : mak..... emak sakit ya???
Emak : iya jo...
Bejo : hmm...kita ke dokter yuk...
Emak : mau bayar pake apa'an....kan duit kita udah tipis jo..
Uhukk...uhukk
Bejo : kita jual si tole(kambing) aja mak..
Emak : tapi kan tuh kambing kesayangan elu....
Bejo : kan bejo lbh sayang emak...
Emak : terserah elu aja dah...
Bejo : ya udah..bejo jual ke pasar ya mak...
Emak : iye...inget ya jo...tuh kmbing bandot..lu jual jutaan...
Jangan mau kalo ditawar murah..sayang....
Bejo : iya mak..bejo juga tau...kn bejo dah capek2 ngerawat...
Kalo gitu bejo pamit ya mak...
#berangkat jual kambing

Tak lama kemudian

bejo : mak...kambing kita laku..jutaan...
Emak : alhamdulillah....
Bejo : pertamanya dia cuma nawar 500rb mak..
Ihh enak aja...kambingnya ditawar murah bnget...kagak bejo kasih...
Emak : bagus tuh jo..emang pembeli jman sekarang maunya murah mulu'...terus... Lu jawab apa wktu dia nawar gitu...
Bejo : bejo bilang...pesan emak kambingnya mesti dihargai jutaan pak...
Gitu mak...
Alhamdulillah....setelah mikir lama...
Akhirnya dia mau juga....harga jutaan..
Bejo : Memang berapa jo dia beli tuh kambing???berapa juta???
Bejo : setengah juta mak...
Hebat kan...sesuai pesan emak..jutaan...gimana???puas mak???
Emak : #*@?&@#*-+???
# semaput dadakan

Cerpen Lucu & Gokil 21 - Didalam kandungan seorang ibu, ada 3 janin bayi kembar yang terlibat percakapan


bayi 1 : eh, kamu jikalau telah lahir, apa perihal pertama yang kamu kerjakan ?
bayi 2 : saya pingin lihat ibuku yang sudah mengandung kita sepanjang 9 bln.
bayi 2 : saya pingin lihat dokter yg senantiasa merawat kita. jikalau kamu ?
bayi 1 : saya pingin lihat binatang kurang ajar yang setiap malam senantiasa berkunjung ke kita dan meludahi kita bertiga !!



Ada 21 kumpulan cerpen lucu dan gokil, semoga menghibur dan cukup mengocok perut sobat semua. Jangan lupa kalau baca cerpen lucu siapkan kacang gar*da, eh kalau itu sih iklan kalau nonton bola, pokonya semoga menghibur dan kalau belum selesai, bookmark dulu page ini, jangan sampai ilang tar susah nyarinya.

Macam Macam Cerpen

Macam macam cerpen yang sering kita dengar ada berbagai macam. Cerpen sendiri merupakan singkatan dari cerita pendek. Cerita itu ada tyang panjang seperti cerita drama, cerita film, cerita komedi atau cerita cerita lainnya. Lawan kata dari panjang tentu adalah pendek, cerpen atau cerita pendek yaitu cerita yang panjangnya tidak melebihi 5 halaman. Sebagai ukuran mudahnya adalah cerita yang habis dibaca sebelum tidur.

Macam Macam Cerpen

Sahabat Kata Kata SMS, macam macam cerpen ada berbagai macam, seperti cerpen persahabatan, cerpen remaja, cerpen anak anak, dongeng, cerpen sedih, cerpen gembira, cerpen cinta, cerpen motivasi, cerpen abadi, cerpen baru, cerpen tentang ibu, cerpen tentang anak dan lain sebagainya.

Cerpen persabatan, tentu saja mengisahkan tentang persahabatan. Berikut salah satu contoh cerpen persabatan :

Cerpen Persahabatan


Sahabatku Mencintai Pacarku

Haloo. Namaku Frisya Gita Ramadhani. Panggil aja Gita. Aku diam diam suka sama kakak kelasku. Namanya Dylan Pratama. Namun ternyata sahabatku juga mencintai Kak Dylan. Nama sahabatku Zaskia Adriani. Panggilannya Kia. Mau Tau kelanjutan ceritanya? simak aja
Pagi Itu..

“Hai Git.” sapa Kia. “Oh Hai juga Kia.” jawabku. “Aduh Bu. Pagi pagi jangan bengong kali” Canda Kia. “Udah ah ganggu aja lo” jawabku. “Lagi mikirin Kak Dylan ya?” Tebak Kia. “Apaan sih Lo?” gertakku. Sebenarnya apa tebakan Kia itu bener. Cuma gue malu aja. “halaah. Jujur aja kali” Desak Kia. “Tau ahh” Aku pun pergi meninggalkan Kia.
2 Bulan Kemudian…

Tak sengaja aku ikut Klub Pramuka. dan di situ aku di kelompokan sama Kak Dylan. Aku senang bukan main. Namun Kia tidak ikut Klub Pramuka. Lalu dipilih Secara acak siapa nama Pemimpin Cowok dan Cewek dalam Pramuka. Karena Pemimpin Pramuka sudah Kelas 12. “Pemimpin Girl’s Scouts Is Frisya Gita Ramadhani dari kelas 11 IPA” Umum Kak Fika. “Dan Pemimpin Boy’s Scouts Is Dylan Pratama” Umum Kak Nio. Wahh aku merasa paling bahagia sedunia. Selain menjadi Pemimpin Girl’s Scouts aku menjadi Pasangan Pemimpin Kak Dylan. Seiring waktu aku pun dekat dengan Kak Dylan.
Suatu Hari…

“Permisi boleh bertemu dengan Gita?” Tanya Kak Dylan. aku yang mendengarnya Kaget. “Ada apa Kak?” tanyaku. “Aku tunggu kamu di Taman” jawab Kak Dylan. “Oke Kak” jawabku
Di Taman…

“Kamu Mau nggak jadi pacarku?” Tembak Kak Dylan langsung. “Aa…pa?? I..Y..a. deh Kak” jawaku “Thanks ya” jawab kak Dylan sambil memelukku. sejak aku jadian sama Kak Dylan KIa mulai Jaga jarak denganku. hingga lama lama dia tak pernah muncul di hadapanku. aku menghiraukannya.
3 bulan kemudian…

“KIa kemana ya?” tanyaku ke Kak Dylan. Kak Dylan hanya menggeleng. “Kakak anterin ke rumah Kia ya” desakku. “Iya. ayo” jawab Kak Dylan
Di Rumah Kia…

“Assalamualakum. Kia Kia” Panggilku. “ehh Non Gita. Non Kia ada di rumah sakit Bakti husada non. Kankernya makin parah.” jawab Mbak Jumi. “Hahh? ya sudah yuk Kak Dylan” ajakku
Di Rumah sakit Bakti Husada… Ruang ICU

“KIa. Kenapa Lo nggak bilang?” Tangisku. “Sorry Git. maafkan aku karena aku telah membohongimu 2 kali” Isak Kia.”2 kali?” tanyaku bingung. “Iya sebenarnya aku.. aku.. aku suka ma Kak Dylan.” Kia menjawab. aku benar benar kaget. “nggak usah dipikirkan waktuku hanya 5 menit lagi.” senyum Kia. “Apa Kia pliss Bertahan Hidup” aku pun menangis. “Udahlah Git udah takdir” tawa Kia. aku menangis sejadi-jadinya selama 5 menit. 5 menit kemudian Tangan Kia telah melepaskan tanganku “Kia Kia bangun Kia Bangun” aku menangis. “Sabar ya Git.” ucap kak Dylan

Berikut salah satu contoh juga cerpen sedih, yaitu cerpen yang mengisahkan sebuah cerota sedih. Bisa juga cerpen sedih ini berisi cerita percintaan, persahabatan, atau penghianatan. Pokoknya yang berbau bau sedih.

Cerpen Sedih


Kesetiaan Separuh Jalan

Hari itu ketika ia dilahirkan dari rahim seorang wanita paruh baya, tangisan darinya mengundang haru kedua orang tuanya. Ketika itu juga disaat ia belum melihat dunia yang baru saja menyambutnya setelah perjanjian dengan Tuhan telah disanggupi. Suara adzan dari bibir ayah tercinta adalah hal pertama yang sengaja diperdengarkan tepat di depan kedua telinga. Lalu diciumnya kening sang istri sembari memeluk harapan yang baru saja dianugerahkan kepada mereka.

Rasa sakit yang teramat sangat, keringat yang bercucuran dengan derasnya, dan darah yang mengalir kini terbayar sudah dengan lahirnya si buah hati. Gelisah dalam penantian, resah yang mengganggu jiwa, dan khawatir yang menggerogoti hati kini telah diusir pergi oleh pelukan sang istri disertai kerasnya tangisan seorang bayi perempuan.

Larut dalam bahagia tak menyadarkan mereka bahwa malam telah datang menghapus terang dan mulai menampakkan kegelapan. Walau demikian, mereka sedikitpun tiada gentar menghadapi kenyataan karena keyakinan mereka bahwa dia adalah lentera yang dapat memancarkan sinar terang dalam kegelapan. Hari demi hari silih berganti, putaran waktu tak kan pernah berhenti hingga “Nina Anugerah Qita” adalah nama yang diberikan ayah kepadanya. Lengkap sudah kebahagiaan yang lama dinantikan, terpenuhi sudah balasan atas kesetiaan dalam suatu ikatan yang sah.

Umur Nina kian bertambah artinya sisa hari-harinya di dunia terus berkurang sampai “kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.. hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia” merupakan lagu lama yang baru pertama kali diperdengarkan dan mencoba terus untuk dinyanyikan. Airmata bunda tak tertahankan ketika Nina melantunkan lagu itu dengan senyuman tulus menyertai setiap syair lagu yang dinyanyikannya. Lalu rasa haru menyesakkan dada sang ayah tercinta disela kesibukannya mencari nafkah untuk hidup mereka. Airmata dan rasa haru tercampur menjadi satu membentuk harapan akan kebaktiaan seorang anak terhadap orang tua yang tak kan pernah pudar rasa kasih sayang serta cinta kepada anaknya.

Suatu malam, ketika Nina mulai beranjak remaja. Musibah datang menimpa keluarga bahagia. Tiadalah hati dapat menyangka bahwa apa yang dilakukan ayah menghadirkan musibah yang mengharuskan mereka terpisah. Airmata menetes lagi, rasa haru hadir kembali sebab ayah terpaksa pergi untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatan yang dilakukan meski demi menghidupi keluarga yang dicintai. Ayah kini telah pergi meninggalkan sang istri, ayah juga pergi meninggalkan Nina yang tidak lagi bayi. Hari-hari mulai berat dijalani, segala masalah yang datang terasa menyudutkan. Namun kesetiaan seorang istri dalam menanti, dan kebaktian seorang anak dalam berbuat adalah kekuatan untuk menjaga keutuhan hubungan dari ganasnya godaan. Setiap hari, setiap malam, dan setiap bunda sendiri, airmatanya berlinang mengingat semua yang pernah dilakukan bersama suami tercinta sampai buah hati mereka sebesar ini. Ia mengingat ketika pertama menjalin cinta, ia tak lupa saat-saat tertawa bersama, ia mengingat ketika pertama mendengar tangisan dari Nina, ia takkan lupa pengorbanan yang dilakukan suami untuk dirinya sebelum dan setelah hadirnya Nina. Lagu yang pernah mereka nyanyikan bersama pun tidak lepas dari ingatan bunda bahkan tak jarang ia menyanyikannya dalam duka dan kesendirian.

Nina yang kini remaja mulai mengenal yang disebut cinta. Nina juga sering bercerita kepada bunda tentang lelaki yang dapat membuatnya merasakan tenang dan damai dalam hatinya. Bunda hanya terdiam mendengarkan tanpa dapat memberi tanggapan dan ia hanya melanjutkan hidup yang terbuai harapan. Anton, adalah laki-laki yang dimaksudkan Nina. Anton adalah laki-laki yang berlatar belakang hampir sama dengan Nina. Selain itu Anton juga merupakan lelaki yang hidup dengan apa adanya dan ia sama sekali tidak pernah mempermasalahkan keadaan keluarga yang diceritakan Nina kepadanya. Anton mencintai Nina dengan tulus, begitu pun Nina pada saat itu. Disela kesendirian bunda dalam menanti kedatangan suami tercinta, Anton dan Nina semakin menampakkan keutuhan hubungan mereka. Hubungan yang banyak menghadirkan rasa iri dari teman-teman yang mengenal mereka. Bahkan tidak sedikit orang yang mengatakan mereka adalah jodoh karena memandang kemiripan yang ada pada wajah mereka berdua. Hal-hal seperti itulah yang semakin pula memperkuat hubungan yang mereka bina bersama.

Tiga tahun berlalu, disaat ibu masih setia menunggu kehadiran suami tercinta. Cinta Anton dan Nina belum tergoyahkan walau Nina tak jarang mempermainkan cinta dan sayangnya Anton. Namun karena cinta yang tulus dan sayang yang begitu besar dan mengingat setiap pengorbanan yang pernah dilakukan, sesering apapun Nina membagi hatinya kepada laki-laki lain, Anton selalu bisa memaafkan dan mempertahankan keutuhan hubungan mereka. Suatu hari, Anton merencanakan sebuah kejutan yang nantinya akan diberikan kepada Nina pada hari ulang tahunnya yang ke-21. Anton dengan cinta tulusnya mulai menyisihkan sedikit dari uang sakunya yang memang tak banyak untuk ditabung. Hari-hari Anton selalu dihiasi bayangan akan kebahagiaan yang dirasakan Nina ketika nanti ia menerima kejutan darinya. Anton bahkan sering membuat teman-temannya bingung akan kelakuannya belakangan ini. Ia lebih sering tersenyum sendiri dan kata-kata yang keluar dari bibirnya adalah kata-kata yang tidak biasanya. Melihat tingkah Anton yang berbeda dari sebelumnya, Bimo yang merupakan teman baik Anton secara spontan bertanya kepadanya. “Kejutan apa lagi yang akan kamu berikan kepada Nina disaat dia terus-terusan menyakitimu?” ucapnya dengan pandangan sedikit sinis. Anton yang mendengar pertanyaan itu pun dengan tenang menjawab, “Sesering apapun Nina menyakitiku, seperih apapun hatiku, dan sebesar apapun kecewa yang kurasakan.

Rasa sayang dan cintaku kepada Nina jauh lebih besar kurasakan dan rasa itulah yang selama ini menguatkanku!”. Bimo tidak berhenti sampai disana, merasa belum puas ia kembali melontarkan kalimat tanya kepada Anton. “Oh yaa, jadi kamu mempertahankan Nina yang selama ini membagi hatinya untuk laki-laki lain hanya karena rasa sayang dan cintamu yang besar? Apa balasan atas besarnya sayang dan cintamu kepada Nina? Nggak ada Ton, nggak ada!” ucapnya kembali dan kali ini ia bertanya dengan raut muka yang kecewa. Seperti pertanyaan pertama, Anton menjawabnya dengan tenang bahkan lebih tenang, “Iya, aku akan terus mempertahankan Nina sampai nanti aku merasa tidak mampu lagi untuk mempertahankan dia di hatiku. Aku juga tidak pernah mengharapkan balasan apapun atas besarnya sayang dan cintaku kepada Nina. Bim, hatikulah yang memilih dia, bukan ragaku. Mungkin itu yang membuat aku melakukan semua ini!”. Lantas apa bedanya dengan kita Bim, kamu yang terus menerus menemaniku saat susah ataupun senang sampai kamu rela mengorbankan jiwa dan ragamu hanya untuk mempertahankanku didekatmu? Balasan apa yang pernah kamu dapatkan dariku atas semua pengorbanan itu Bim? nggak ada Bim, belum ada!!”, ucap Anton kepada Bimo. Bimo yang merasa ditampar oleh perkataan Anton hanya bisa terdiam merenungkan perkataan yang keluar dari bibir Anton. Ia sadar bahwa perkataan Anton terhadap dirinya memang ada benarnya, setiap apa yang kita lakukan tidak sepenuhnya berharap ada balasan. Dan mulai saat itu Bimo tidak lagi berkata apa-apa tentang kelakuan Anton. Melihat Bimo terdiam, Anton tidak tinggal diam. Anton mengajak Bimo untuk pergi ke sebuah toko emas. Anton dan Bimo kemudian memesan sepasang cincin bertuliskan nama Anton dan Nina. Setelah ia selesai memesan, mereka kembali pulang dengan senyuman menghiasi wajah keduanya. Bimo yang tadinya mendesak Anton untuk meninggalkan Nina berubah mendukung dan Anton yang tadinya senang bertambah gembira.

Tiga hari berselang, tepat pada hari ulang tahunnya Nina yang ke-21. Anton pergi ke toko emas yang telah didatangi sebelumnya untuk menebus cincin yang dipesan tiga hari yang lalu. Ketika cincin sudah ditangan, Anton tidak langsung pulang. Ia bergegas memutar laju sepeda motor yang dipinjamnya dari Bimo dan mengarahkannya ke sebuah toko bunga yang jaraknya 20 menit dari toko emas tadi. Disana, ia membeli dua tangkai bunga mawar yang masih segar dan dimintanya si penjual untuk mengemas bunga mawar tersebut dengan rapi. Cincin dan bunga kini sudah ditangan, sekarang tinggal menunggu Nina datang padanya. Nina yang ditunggu akhirnya datang, dan apa yang diberikan Anton membuat Nina merasa sangat bahagia lalu memeluk Anton dengan eratnya. Anton pun merasa senang karena usaha yang dilakukan telah bisa membuat Nina bahagia menerima pemberiannya.
Anton yang bahagia tiba-tiba terkejut mendengar kabar Nina yang telah lima bulan menjalani hubungan secara diam-diam dengan seorang laki-laki yang jauh lebih bisa menjamin hidupnya kedepan dibandingkan Anton yang harus susah payah menabung guna membeli sesuatu untuk Nina. Anton mencari kebenaran akan kabar yang didengarnya, dan ternyata benar. Atas pengakuan Nina sendiri, Anton merasa sangat tersiksa. Siksaan yang dirasakan Anton kian bertambah ketika Nina berkata bahwa ia tidak lagi punya cinta ataupun sayang kepada Anton walau itu Cuma sedikit. Anton yang senyum kini menangis, Anton yang berusaha kini sia-sia, dan Anton yang bahagia kini berduka. Namun apalah daya, Anton dengan berat harus berusaha meninggalkan Nina yang dulu dipatok sebagai calon istri bahkan Nina dengan tenang menyarankan kepada Anton untuk melupakan dirinya sebab Nina telah menemukan Anton yang dahulu pada laki-laki yang bersamanya saat ini. Anton pun dengan terpaksa meninggalkan Nina, tapi tidak hatinya karena dalam hati Anton bahkan yang terdalam sekalipun masih ada Nina yang sulit tergantikan oleh wanita lain.

Seiring waktu terus berlalu, selagi bunda masih setia menunggu, dan selama Nina tenggelam dalam kebohongan yang entah kapan ia memulainya, nyatanya ia telah mahir. Anton sekarang menjalani sisa hidupnya dalam duka yang bercampur kecewa melihat dan mendengar kebahagiaan yang dijalani Nina dengan kekasih barunya. “Bunda, Anton mohon maaf atas semua kesalahan Anton selama bersama Nina dan Anton bangga telah sempat menjadi bagian dari keluarga bahagia ini”, ucap Anton kepada bunda Nina dalam satu pesan singkat bersama airmata yang membasahi pipinya. Bunda hanya terdiam saat mengetahui semuanya dan berdoa untuk kebaikan mereka berdua. Semoga doa bunda dapat dikabulkan oleh Tuhan, seru Anton dalam hati yang masih berharap sambil melangkahkan kaki lalu pergi.

Itu tadi contoh contoh macam macam cerpen, untuk contoh yang lain bisa dicari di mbah google, melalui mesin pencarinya. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi referensi sobat semua dalam membuat cerpen. Terimakasih.